21 Agustus 2022 - 07:35 WIB | Dibaca : 871 kali

Kesialan dan Penyakit; Mitos Bulan Safar Sejak Zaman Jahiliyah

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Mereka menganggap Safar adalah sebuah penyakit yang bersarang di dalam perut manusia, karena adanya sejenis ulat besar yang hidup di dalamnya dan sangat berbahaya

SWARAID, PALEMBANG: Tanggal 1 Safar 1444 Hijriah jatuh pada tanggal 29 Agustus 2022. Mendekati bulan Safar, sebagian masyarakat Indonesia memiliki keyakinan bahwa bulan ke dua pada penanggalan Hijriah ini identik dengan kesialan dan bulan datangnya penyakit.

Namun mitos ini bukan perkara baru, mitos tentang kesialan di bulan Safar ini sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Pendapat tidak baik tentang bulan Safar ini berawal dari pemikiran masyarakat Arab Jahiliyah pada masa lampau.

Ternyata ada beberapa kebiasaan yang sering dilakukan oleh kaum Arab Jahiliyah pada saat bulan Safar serta mitos-mitos tentang bulan Safar.

Berdasarkan “Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah” karya Ida Fitri Shohibah, mengatakan jika orang Arab Jahiliyah beranggapan bulan Safar merupakan bulan kesialan.

Mereka percaya bulan Safar adalah bulan di mana Allah SWT menurunkan azab dan hukuman ke dunia. Oleh sebab itulah, mereka berpikir akan ada banyak musibah dan bencana yang terjadi di bulan ini, khususnya pada saat memasuki hari Rabu di pekan terakhir.

Baca Juga :  6 Hal Sederhana yang Membuat Akhir Pekan mu Lebih Menyenangkan

Pengertian Safar menurut bahasa artinya adalah kosong. Alasan bulan ini dinamakan Safar berawal dari kebiasaan orang-orang Arab zaman dahulu yang kerap meninggalkan tempat tinggal atau rumah mereka untuk berperang ataupun bepergian jauh, sehingga menjadikan kota tersebut kosong.

Tak hanya itu, orang Arab Jahiliyah di masa lalu juga berpendapat mengenai bulan Safar. Mereka menganggap Safar adalah sebuah penyakit yang bersarang di dalam perut manusia, karena adanya sejenis ulat besar yang hidup di dalamnya dan sangat berbahaya.

Pendapat lain menyatakan jika Safar adalah hembusan angin berhawa panas yang dapat menyerang perut dan menyebabkan orang yang terkenanya menjadi sakit.

Selain itu, ada anggapan pada bulan Safar seseorang untuk tidak boleh menggelar berbagai kegiatan penting, seperti pernikahan, khitan, dan lain sebagainya.

Mengutip dari buku yang ditulis H A Zahri berjudul “Pokok-Pokok Akidah yang Benar”, kepercayaan jika Safar akan mendatangkan kesialan dapat disebut sebagai jenis khurafat atau mitos.

Secara bahasa khurafat artinya cerita bohong, sementara secara istilah khurafat artinya cerita rekaan atau khayalan.

Baca Juga :  Tak Hanya Nikmat Dijadikan Capcay, Sawi Putih Punya Manfaat untuk Kesehatan

Kepercayaan di bulan Safar tersebut bahkan dibantah langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi:

“Tidak ada kesialan karena ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat).” (HR Bukhari)

Mempercayai kepercayaan sejenis itu bukanlah bagian dari ciri-ciri orang beriman. Yaitu orang yang mampu memahami bahwa segala rahasia dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia hanyalah ada dalam genggaman Allah SWT, dan tidaklah suatu peristiwa akan terjadi melainkan karena rencana Allah.

Demikian tadi mitos bulan Safar yang sudah ada sejak zaman jahiliyyah. Berbagai kepercayaan mengenai kesialan dan penyakit di bulan Safar hanyalah mitos yang dilarang untuk dipercayai.

Komentar