21 Agustus 2022 - 00:25 WIB | Dibaca : 924 kali

Beras: Bahan Pangan Pokok dan Kekayaan Alam Murni Indonesia

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Beras merupakan bagian integral, dapat dikatakan menjadi penciri dari budaya Austronesia, khususnya Austronesia bagian barat

SWARAID, PALEMBANG: Kita telah mengenal beras sebagai bahan makanan pokok dengan kandungan karbohidrat tinggi yang mengenyangkan tentunya. Namun tak sebatas itu yang patut kita ketahui dari beras. Sebagai negara penghasil beras terbesar, di artikel kali ini, kita kan membahas beras lebih jauh.

Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea‘ (bagian yang ditutupi) dan ‘lemma‘ (bagian yang menutupi).

Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Beras umumnya tumbuh sebagai tanaman tahunan. Tanaman padi dapat tumbuh hingga setinggi 1 – 1,8 m. Daunnya panjang dan ramping dengan panjang 50–100 cm dan lebar 2-2,5 cm. Beras yang dapat dimakan berukuran panjang 5–12 mm dan tebal 2–3 mm.

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai.

Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.

Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras.

Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.

Baca Juga :  Kejagung Dalami Kasus Beras Oplosan, PT Belitang Panen Raya Tidak Hadir

Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat.

Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai.

Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg).

Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.

Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase.

Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik.

Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya.

Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

Beras merupakan bagian integral, dapat dikatakan menjadi penciri dari budaya Austronesia, khususnya Austronesia bagian barat. Istilah Austronesia lebih merupakan istilah yang mengacu pada aspek kebahasaan (linguistik).

Baca Juga :  Resesi Seks di China Dipicu Biaya Hidup dan Pendidikan yang Mahal

Pembedaan padi, gabah, merang, jerami, beras, nasi, atau ketan, merupakan salah satu ciri melekatnya “budaya padi” pada masyarakat pengguna keluarga bahasa Austronesia, dan dengan demikian juga bagian dari budaya Austronesia.

Sejumlah relief pada candi-candi di Jawa juga memperlihatkan aspek “budaya padi” pada masyarakat setempat pada masa itu.

Budaya menanak beras hingga kini masih bisa ditemui sebagai kegiatan sehari-hari, walaupun berbagai cara instan dicoba, misalnya, adanya inovasi makanan berbahan beras seperti rengginang, bahkan hingga beras merah instan, untuk mengadaptasi gaya hidup yang semakin mobil dan dinamis.

Konon Indonesia memiliki hingga 7.000 jenis beras kuno yang menjadi kekayaan alam murni dari limpahan berkat Tuhan yang tak banyak diketahui. Akibat peraturan agraria dan faktor lainnya, beras-beras kuno ini terancam punah.

Melalui workshop Ancient Rice yang diselenggarakan di The Dharmawangsa Jakarta (20/8/22), Helianti Hilman selaku pendiri Javara Indonesia menyebutkan bahwa ada cerita panjang di balik kebiasaan orang Indonesia yang hobi mengonsumsi beras putih atau nasi putih.

Melalui perjalanan panjang yang dilakukannya, Helianti menceritakan kisahnya saat bertemu sosok almarhum Mbah Suko yang menyimpan banyak jenis beras kuno di halaman rumahnya.

“Jadi waktu itu saya ketemu Mbah Suko, saya kaget melihat banyak padi yang justru ditanam di dalam pot di rumahnya. Ternyata padi-padi ini adalah beras kuno yang disimpannya sejak masa orde baru,” ungkap Helianti.

Keterbatasan memaksa Mbah Suko untuk ‘menyembunyikan’ beras-beras kuno tersebut dan hanya ditanam di dalam pot rumahnya. Sejak saat itu, Helianti mengaku menjadi tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang beras-beras kuno.

Baca Juga :  Menjaga Mood Ketika Work From Home di Masa Pandemi

Helianti menyebutkan banyak sekali pengalamannya berkenalan dengan alam termasuk ketika dirinya diajarkan untuk ‘menyatu’ dengan sawah. Untuk pertama kalinya, Helianti diajak turun langsung ke sawah tetapi dengan banyak persyaratan agar tidak mengganggu kesuburan padi para petani.

“Waktu itu saya sempat diajak ke sawah tetapi harus buka sepatu karena konon untuk menyatu dengan alam tanpa jarak. Selain itu saya juga ditanya moodnya, apakah lagi bagus atau buruk. Kata petaninya mood seseorang menentukan suasana dan aura yang nantinya mempengaruhi pertumbuhan padi di sawah,” ungkap Helianti.

Rasa penasaran yang semakin besar membawa Helianti mengumpulkan lebih dari 40 jenis beras dan membantu memakmurkan komunitas petani-petani yang pernah ditemuinya. Helianti mengaku selalu tak sabar untuk membawa beras-beras yang cantik ini agar lebih dikenal oleh masyarakat.

Helianti bahkan berhasil memasarkan beras kuno asal Indonesia pada sebuah konferensi di Italia. Menyaingi beras Thailand dan India yang begitu populer di dunia, Helianti mampu memasarkan 2 ton beras kuno dalam 3 hari pada acara konferensi tersebut.

Ada setidaknya delapan jenis beras yang ditawarkannya yaitu Andel Abang, Menthik Susu, Cempo Hitam, Saudah, Menthik Wangi, hingga Cempo Merah.

Walaupun hanya berawal dari 200 kilogram, kini Javara telah berhasil membawa beras-beras kuno ini lebih dikenal bahkan hingga dikirim ke 33 negara di dunia.

Helianti berharap bahwa penggemar beras kuno bisa semakin meningkat, khususnya di Indonesia. Ia juga ingin melestarikan beras-beras ini sebagai warisan nenek moyang dan berkat Tuhan yang tak akan pernah punah.

Komentar