Karya: NV Wipu
Yang datang malam itu bukan kunang-kunang
Melainkan Tiwi dengan wajah penuh garis kebimbangan
Antara ingin diam atau berteriak
Antara ingin berlari atau berhenti sampai disini
Dia datang tidak beserta buket bunga atau sebatang cokelat
Melainkan sekotak tanda tanya dan pilihan-pilihan
Menyerah pada hidup
Atau mengejar mimpi diatas ranjau berduri
Aku lihat hatinya remuk
Bekas jahitan dimana-mana
Sebagian besar masih mengeluarkan darah
Sebagian lagi bonyok bernanah
Suaranya parau, lelah menagih janji
Pakiannya lusuh, robek disana sini
Hartanya habis dinikmati orang asing
Anak-anaknya kelaparan di rumah ibunya sendiri
Ia lalu duduk disampingku
Menceritakan bagaimana kondisi terkini di rumahnya
Para penjaga saling bunuh
Para pengurus rumah tangga saling sikut
Semua orang yang dipercaya mengedepankan
keuntungan sendiri
Dengan topeng demi kepentingan bersama,
Tiwi menangis
Ia menangis, seketika itu hujan turun deras
Air meninggi, sebagian badan kami terendam banjir
Bukit di samping rumah longsor
Tanah bergetar, kupeluk dia
Dia melepaskan pelukanku
Lalu berjalan keluar menerobos air yang kian meninggi
Aku takut dia tenggelam
Apalagi tubuhnya begitu lunglai
Ia bergegas pulang teringat lumbung padinya
Yang sudah jadi sarang tikus
Takut sisa padi yang tak seberapa itu
Hanyut terseret banjir
Aku khawatir ia tak mampu bertahan
Dengan kondisi segawat ini
Tolong,
Kabarkan padaku jika dia masih selamat







Komentar