21 Juli 2022 - 06:21 WIB | Dibaca : 864 kali

Juliana; Perempuan Rimba Melawan Adat Demi Pendidikan

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Kemajuan zaman tidak menjamin mudahnya peralihan cara berpikir masyarakat, sebagaimana yang masih dirasakan oleh perempuan-perempuan rimba

SWARAID, JAMBI: Mengenyam pendidikan tinggi mungkin menjadi dambaan setiap orang di berbagai kalangan, gender, dan latar belakang.

Pendidikan merupakan sebuah instrumen dalam upaya membentuk pola pikir maju sebagai suatu dasar membangun negara.

Namun sebatas keinginan tidak juga menjadikan target ini dapat dicapai dengan mudah. Dukungan orang-orang di sekitar, terutama keluarga, hingga aturan adat menjadi begitu penting.

Kemajuan zaman tidak menjamin mudahnya peralihan cara berpikir masyarakat, sebagaimana yang masih dirasakan oleh perempuan-perempuan rimba. Butuh perjuangan berat untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, adat adalah faktor penghambatnya.

Sudah banyak perempuan Orang Rimba yang putus sekolah dan menikah sesuai pilihan orangtua.

Namun ada seorang perempuan rimba dari kelompok Dusun Kelukup, Desa Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Bungo bernama Juliana (20) yang punya keberanian besar melawan arus. Ia kini mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Jambi.

“Saya mau kuliah, karena sadar hutan bukan lagi masa depan,” kata Juliana di kanal YouTube Kompas.com yang diunggah belum lama ini.

Ia menceritakan, sejak lahir sudah tinggal di luar hutan, karena itu keahlian untuk bertahan hidup dalam alam liar menjadi minim.

Kelompok Juliana sudah tidak memiliki hutan. Mereka tinggal di perumahan bantuan pemerintah.

Keputusan keluarganya untuk mualaf serentak pada 2014, juga mendorong perempuan ini untuk memiliki keahlian baru.

“Saya pilih kuliah di Universitas Muhammadiyah dan ambil jurusan kehutanan,” kata Juliana.

Juliana bercita-cita ingin bekerja di perusahaan yang bergerak dalam konservasi hutan agar dapat membantu orang rimba lain agar dapat hidup tenang, tanpa takut deforestasi atau alih fungsi lahan.

Lawan Pernikahan Dini

Keinginan kuliah ini, ditekadkan Juliana harus mulus sampai akhir. Setidaknya, dia dapat menginspirasi perempuan rimba lain, agar tidak melakukan pernikahan dini.

“Takut Bang. Adat kami keras, kalau melawan adat itu kena denda (tebus) dan maaf (perempuan) Rimba bisa mendapatkan kekerasan fisik dari keluarga,” kata Juliana dengan nada berat.

Ia mencontohkan kasus yang terjadi padanya. Sebelum kuliah, dia sudah dipinang sesorang pria kepada pamannya.

Baca Juga :  Pol Airud Mesuji Bantu Anak Nelayan Ruang Ramah Pendidikan

Adat patrilineal Orang Rimba, seorang paman dapat menerima atau menolak lamaran seorang lelaki terhadap anak perempuan yang berada dalam pengaruhnya.

Dalam konteks ini, perempuan Rimba berada dalam kendali paman dan nenek (garis ibu) terkait urusan pernikahan.

Kedua orangtuanya apabila melawan keputusan sang paman, maka harus membayar tebusan (denda adat) sampai dua kali lipat, sesuai mahar yang dibayarkan oleh pihak lelaki rimba.

“Rasa cinta Ayah begitu besar. Dia sanggup jual kebun, untuk membayar tebusan (denda adat) agar saya tetap kuliah dan batal menikah,” kata Juliana dengan mata berkaca-kaca.

Bagi perempuan rimba, untuk sampai pada titik orangtua membayar tebus perjodohan (lamaran) itu tidak mudah. Tentu harus memiliki keberanian dan keberuntungan.

Juliana memiliki keduanya, berani dan beruntung. Sebab dia berani mengutarakan mimpinya untuk kuliah.

Beruntung karena lelaki yang melamarnya, apabila jadi menikah akan membawanya jauh dari kedua orangtuanya.

Pernikahan dini di kalangan Orang Rimba sudah mentradisi. Juliana menuturkan, sepupunya menikah di usia 16 tahun atau saat masih kelas 2 sekolah menengah kejuruan.

Teman dekat lainnya, yang putus sekolah karena menikah di usia 14 tahun saat duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama.

“Yang paling muda itu ada, kelas 5 SD sudah nikah. Itu belum balig,” sebut Juliana.

Tantangan lain dari Juliana untuk kuliah adalah rayuan dari kakak tertuanya. Dia membujuk Juliana dengan memberikan 3 hektar sawit, jika ingin berhenti kuliah.

“Tidak mau kebun sawit. Walaupun dikasih 100 hektar plus mobil, tetap saya pilih kuliah,” kata anak kedua dari 4 saudara ini.

Korban bullying

Anak perempuan dari ayah bernama Samsu ini, menjadi korban bahan olok-olokan (bullying) dari kerabat dekat atau ibu-ibu di tempat Juliana berasal.

“Kamu ngapain kuliah, nanti juga balik ke hutan (dusun), balik ke dapur. Enaklah berhenti kuliah bantu orangtua kerja. Kasihan sama orangtua harus kerja keras,” kata Juliana.

Baca Juga :  Gerakan #BangunNegeri Ajarkan Pendidikan Karakter di Pasraman Hindu

Perkataan dari orang-orang ini membuat remuk hati Juliana. Sehingga memunculkan hasrat untuk kembali ke kampung dan berhenti kuliah.

“Saat-saat genting itu, kakak-kakak pendamping dari Pundi Sumatera menguatkan, meminta saya jangan menyerah,” kata perempuan yang sudah kuliah 4 semester ini.

Kendala Kuliah Daring

Perempuan berhijab ini menuturkan saat baru masuk kuliah bertepatan dengan pandemi dan harus menjalani kuliah jarak jauh (daring).

Uang kuliah memang beasiswa, kata Juliana, tetapi peralatan kuliah seperti ponsel pintar wajib ada.

“Sempat enggak bisa kuliah karena tidak punya handphone. Orangtua kuras tabungan, untuk beli,” kata Juliana.

Setelah memiliki ponsel juga kebingungan, karena pertama kali menggunakan ponsel dan kuliah dengan sistem daring.

Dengan pendampingan dari lembaga pemberdayaan masyarakat adat, Pundi Sumatera, Juliana dengan cepat menguasai teknologi.

“Tantangan kuliah saat pandemi, ya susah sinyal dan mati lampu,” kata perempuan yang memiliki ibu bernama Benang ini.

Hubungan Emosional dan Sosial

Untuk pergaulan di kampus, awalnya Juliana mengaku pendiam dan sangat jarang membuka diri. Setelah 2 tahun kuliah Juliana sudah mengenal seluruh teman kampusnya. Bahkan dia punya 7 orang sahabat dekat. Tidak hanya sahabat, dia juga memiliki media sosial seperti Facebook dan Instagram.

CEO Perkumpulan Pundi Sumatera, Dewi Yunita Widiarti menuturkan lembaga yang dia pimpin fokus pada layanan pendidikan, melalui kegiatan sekolah alam dan fasilitasi pendidikan ke sekolah formal.

Kemudian program pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan Pundi Sumatera pada komunitas Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba sejak 2012.

“Tidak mudah membuat perempuan Orang Rimba kuliah, karena rata-rata usia 18 tahun sudah menikah. Lebih dari itu dianggap perawan tua,” kata Dewi.

Baru-baru ini ada 3 orang yang putus sekolah karena harus menikah. Bahkan perempuan rimba ini, menangis-nangis meminta Pundi Sumatera “menggagalkan” pernikahan mereka karena ingin sekolah.

“Kami dengan pemerintah daerah, bersama-sama mau membatalkan pernikahan perempuan rimba. Tapi gagal karena berlaku hukum adat dan denda adat,” kata Dewi.

Baca Juga :  Yayasan Maitreyawira Gelar Seminar Pertanian Eco Enzyme "si Air Ajaib" Seribu Manfaat

Selain adanya tradisi dan hukum adat Orang Rimba yang kuat, pernikahan perempuan rimba sejak dini, dapat mengurangi beban orangtua terkait tekanan ekonomi.

Dengan adanya Juliana yang memiliki keinginan kuat untuk kuliah, maka Pundi Sumatera mendukung penuh seluruh biaya kuliahnya.

“Mulai dari uang kampus sampai duit buku, uang makan dan jajan kita tanggung. Kita kasih beasiswa full,” kata Dewi.

Dewi menegaskan Juliana masuk kuliah kehutanan, merasa lebih mudah dan dekat dengannya, memilih sendiri tanpa paksaan.

Pihaknya sudah mendampingi Juliana sejak 2012. Pembinaan dimulai dari SD, agar senantiasa memprioritaskan pendidikan.

Perempuan di Mata Orang Rimba

Perempuan Rimba itu tradisinya tidak boleh pergi jauh dari rumah. Saat pergi harus didampingi oleh bapak atau abangnya. Juliana melawan tradisi itu dan dapat membuktikan kalau dia bisa menjaga diri di luar kelompok, untuk menempuh pendidikan.

Perempuan bagi orang rimba adalah kehormatan keluarga. Bahkan denda adat bisa dijatuhkan apabila tanpa izin mendekati atau menyentuh perempuan rimba.

Sementara itu, Sri Muryati, Dosen Kehutanan Universitas Muhammadiyah Jambi menuturkan kampusnya amat senang mendapatkan mahasiswi seperti Juliana.

“Kami sangat mendukung pemberdayaan pendidikan Orang Rimba. Kami bekerja sama dengan Pundi Sumatera,” kata Muryati.

UM Jambi selalu memantau Juliana dalam pergaulan. Hal ini dilakukan agar dia terhindar dari korban bullying.

“Awal masuk memang pendiam. Budaya Orang Rimba memang perempuan dilarang bergaul dan berkumpul dengan lelaki, selain keluarga. Tapi lama-lama terbuka,” katanya.

Keterbukaan Juliana, tambah Muryati karena setiap dosen menggunakan metode kerja kelompok, agar para mahasiswa saling berbaur.

Selain itu, pihak kampus juga mengadakan kuliah lapangan dengan camping di hutan kota dan hutan Sebapo.

“Sejauh pantauan kami, dia disayang teman-temannya dan tak pernah jadi korban bullying,” katanya.

Juliana menurut dia adalah anak yang rajin. Nilai biologinya pun paling menonjol. Bahkan Juliana mewakili kampus, ikut Olimpiade Biologi tingkat provinsi. “Dia dapat beasiswa, tidak dipungut biaya,” tutup Muryati.

Komentar