SWARAID, PURWOREJO: Aparat kepolisian diturunkan ke Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah untuk melakukan pengawalan terhadap tim dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang melakukan pengukuran hutan terkait rencana penambangan batu andesit pada proyek Bendungan Bener, (8/2) pagi.
Namun, dikabarkan sejumlah aparat justru melakukan penyisiran (sweeping) terhadap warga desa serta menurunkan sejumlah banner berisi penolakan warga atas tambang batu andesit.
Lebih lanjut, aparat mengejar beberapa warga desa, melakukan penangkapan, serta mengepung sejumlah rumah warga.
Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa) pun merilis kronologi pengepungan aparat terhadap Desa Wadas.
Kronologi
Melansir CNN Indonesia, berawal pada Senin (7/2) siang, saat ribuan aparat kepolisian mencoba memasuki Desa Wadas. Mereka berbaris di Purworejo dan mendirikan tenda di Lapangan Kaliboto yang berlokasi di belakang Polsek Bener.
Pada malam hari, terjadi pemadaman listrik di Desa Wadas. Pemadaman ini dilaporkan hanya terjadi di Desa tersebut, sementara desa-desa lainnya tetap menyala.
Selasa (8/2) pukul 07.00 WIB, seorang warga Wadas bersama istrinya yang hendak menuju kota Purworejo menyempatkan diri melihat kondisi di sekitar Polsek sambil sarapan. Tiba-tiba sejumlah polisi mendatangi keduanya.
Beberapa polisi ini lantas membawa keduanya ke Polsek Bener. Sang istri kemudian melarikan diri dan kembali ke Wadas. Sang suami yang ditinggal hingga kini dilaporkan masih ditahan pihak kepolisian.
Sejam kemudian, pasukan polisi bersenjata lengkap dengan anjing-anjingnya melakukan apel di Lapangan Kaliboto. Pukul 09.00 WIB, tim pengukur dari Kantor Pertanahan Purworejo mulai memasuki Desa Wadas.
Pukul 09.30 WIB, akses masuk ke Desa Wadas di sekitar polsek Bener sudah dipadati polisi. Sekitar pukul 10.00 WIB, beberapa mobil polisi tampak memasuki Wadas dengan aparat yang mencopoti poster-poster berisi penolakan warga terhadap penambangan di Desa Wadas.
Pukul 10.48 WIB, aparat memasuki Desa Wadas menggunakan motor, mobil, dan jalan kaki. Tengah hari, polisi mengepung dan menahan warga yang sedang mujahaddah di masjid. Sementara proses pengukuran yang dilakukan di hutan tetap berjalan.
Dan pada pukul 12.24 WIB, aparat dilaporkan mendatangi ibu-ibu yang sedang membuat makanan di posko-posko jaga. Mereka dilaporkan merampas semua barang ibu-ibu di posko tersebut.
Laporan terkini, warga Wadas masih bersengketa dengan pihak aparat. Polisi dilaporkan melakukan intimidasi dan teror terhadap warga setempat.
Sebanyak 40 warga ditangkap imbas sengketa tersebut. Dari 40 orang tersebut, di antaranya terdapat anak di bawah umur.
“Iya [40 orang ditangkap dan beberapa di antaranya anak-anak], di lapangan terakhir seperti itu,” kata Kepala Divisi Penelitian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta Era Hareva Pasarua, Selasa (8/2).
Ganjar Pranowo: Hanya pengukuran saja kok!
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membenarkan kegiatan pengukuran yang dilakukan di Desa Wadas. Ganjar mengatakan, kehadiran polisi tak lepas dari menjaga situasi kamtibmas agar semua berjalan aman dan kondusif. Ganjar pun meminta warga tidak menyikapi secara berlebihan.
“Iya ada pengukuran, hanya pengukuran saja kok, tidak perlu ditakuti, tidak akan ada kekerasan,” ungkap Ganjar.
Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi juga turut mengonfirmasi kegiatan aparat di Desa Wadas tersebut. Ia mengatakan, para polisi di wilayah tersebut tak melakukan kekerasan terhadap warga.
“Saya ikut di lapangan, di Wadas, memastikan tidak ada kekerasan. Prinsip kami melindungi masyarakat,” ujarnya.
Warga takut keluar rumah
Seorang warga mengatakan penjagaan ketat oleh aparat menyebabkan ketakutan bagi warga. Warga tidak berani keluar rumah dan memilih untuk berdiam diri di rumah karena takut dicokok aparat.
“Semua warga resah di sini, itu setiap perbatasan, di masjid, semua dijaga polisi. Mengganggu aktivitas warga, anak-anak yang mau sekolah, mau main jadi takut,” ucap warga yang enggan disebut namanya, Rabu (9/2).
Warga tak ada yang berani keluar rumah sekalipun untuk membeli kebutuhan rumah tangga atau pangan. Menurutnya, polisi akan menangkap setiap warga yang keluar rumah.
“Warga memilih makan seadanya saja, karena takut keluar. Tidak ada warga yang mondar-mandir cari keperluan. Anak-anak takut, mereka kan tidak biasa melihat sebegitu banyak polisi,” jelasnya.
Sementara suasana pagi ini di Desa Wadas masih dipenuhi dan dijaga ratusan anggota kepolisian. Terlihat beberapa mobil polisi terlihat melintas di dalam desa.
“Sampai dengan batas waktu yang belum bisa ditentukan. Tentu kami tetap akan menempatkan personel yang ada di wilayah ini,” kata Wakapolda Jateng Brigjen Abiyoso Seno Aji kepada wartawan.
Ia mengatakan penempatan personel kepolisian dilakukan untuk memastikan bahwa wilayah tersebut tetap aman. Dia pun mengklaim tidak ada kericuhan yang terjadi selama proses pengukuran proyek Bendungan Bener di wilayah Desa Wadas.









Komentar