SWARAID – PALEMBANG, (14/10/20) : Perpustakaan pertama yang memadukan antara tempat nongkrong ala cafe dengan perpustakaan, Perpustakaan Prof. H. Daud Busroh dengan konsep lifebreak cafe yang diluar mainstream, dimana pandangan pada umumnya, bahwa perpustakaan tempat yang hening dan terkesan hanya untuk fokus membaca.
Firman Fredy Busroh ketua Dewan Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIPHADA) menerangkan bahwa cafe literasi yang kembali dibuka setelah masa pandemi ini diterapkan pada perpustakaan yang yang menggunakan nama dari pendiri Stiphada. Mengambil konsep milenial diharapkan mampu menambah minat baca masyarakat.
“Kita memang ingin punya perpustakaan yang juga diminati. Karena yang kita lihat kecenderungan masyarakat yang kurang tertarik dalam membaca. Akhirnya kita mengambil konsep lifebreak cafe cara untuk meningkatkan pengunjung perpustakaan.” Tutur Firman kepada Reporter SwaraID.
Dengan menyediakan ruang kedap suara agar terfokus dalam membaca, fasilitas meja biliar bagi pengunjung, ruang lounge, ruang khusus untuk diskusi, karaoke gratis, dan cafe. Firman sengaja mengambil konsep ini yang diharapkan bahwa perpustakaan tidak hanya untuk mencari buku, tapi juga diharapkan bahwa perpustakaan tersebut menjadi tempat berkumpulnya komunitas, berdiskusi, dan lebih santai.
“Dengan konsep yang ditawarkan, cafe literasi dapat membuat pengunjung perpustakaan yang datang tidak merasa seperti didalam perpustakaan yang dianggap membosankan” jelasnya kembali.
Cafe literasi ini diawal kemunculannya pun menjadi sorotan, hingga akhirnya diajukan oleh Perpustakaan Daerah untuk diakreditasi. Firman pun menceritakan bahwa Asesor dari Perpustakaan Nasional kagum akan konsep yang ditawarkan dari Perpustakaan Prof. H. Daud Busroh
“Alhamdulillah perpustakaan kita sudah terakreditasi, dan Asesornya sempat bilang bahwa baru untuk pertama kalinya menemukan konsep perpustakaan seperti ini.” Tambah Firman.
Dengan konsep yang ditawarkan ini peningkatan jumlah pengunjung yang diawal tak lebih dari sepuluh dalam sebulan, setelah adanya cafe literasi mampu meningkatkan hingga pengunjung yang datang meningkatkan hingga 30 orang sampai 70 orang perhari nya. Walaupun mereka awalnya hanya ingin jajan dan santai, tetapi akhirnya cafe literasi ini diyakini akan menjadi tempat diskusi dan tempat baca buku sebagai tujuan awal didirikannya.
Selain itu firman juga menerangkan akan tetap meng upgrade perpustakaannya dengan terus menambah buku- bukunya yang saat ini koleksinya mencapai 2000 buku,
“Untuk sekarang memang didominasi dari buku-buku hukum, namun ada juga sudah berlangganan dengan jurnal internasional, dari Perpustakaan Stamford, Singapura, Cambridge, dan juga buku-buku karangan dari Dosen di Stiphada”.
Walaupun saat ini setelah masa pandemi terjadi penurunan omset yang diawal sebelum masa pandemi bisa 70 sampai 100 juta perbulan, karena sempat tutup akibat masa pandemi, untuk saat ini berkisar 30 sampai 50 juta perbulan.
“Karena masa pandemi ini mahasiswa juga kadang datang ke kampus kadang juga nggak. Ini karena kampus kita selain pembelajaran dengan online, juga ada tetap classroom learning. Bahkan saat ini pengunjung yang hadir tidak hanya dari kalangan mahasiswa Stiphada, namun juga ada dari UIN Raden Fatah Palembang, dan UNSRI.” Pungkas Firman.








Komentar