5 Desember 2021 - 01:40 WIB | Dibaca : 979 kali

Amukan Semeru Menyisakan Luka, Korban : Seperti Kiamat!

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, LUMAJANG : Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa mengalami erupsi dan mengeluarkan awan panas pada Sabtu, (04/12/21).

Awan panas keluar dan mengarah ke Curah Kobokan sejauh 10-11 km dari kawah Gunung Semeru.

Akibat amukan Semeru ini, Jembatan Gladak Perak yang merupakan akses penghubung Kabupaten Lumajang dan Malang terputus , sehingga menjadi kendala dalam proses evakuasi warga.

Dikabarkan juga listrik padam sehingga suasana gelap gulita ditambah hujan abu vulkanik yang begitu tebal.

Korban jiwa    

Wakil Bupati Lumajang Indah Masdar mengatakan ada korban meninggal dan luka-luka akibat letusan gunung semeru sore tadi. Dari proses evakuasi, terdapat 1 orang yang meninggal dan 41 orang lainnya luka-luka.

“Ada satu orang yang meninggal dari Curah Kobokan dan tadi sudah dibawa oleh mobil ambulans dan mudah-mudahan sudah terangkut. Karena waktu tadi saya disana masih dalam proses evakuasi,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Sabtu (04/12/21) sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia.

Sementara itu, untuk korban luka-luka, ada yang luka bakar ringan dan ada juga yang luka bakar sangat parah.

Untuk yang luka biasa sudah dievakuasi ke puskesmas terdekat, sedangkan yang luka bakar sangat parah di rujuk ke Rumah Sakit sekitar.

Baca Juga :  Pertamina Resmi Ambil Alih Blok Rokan Setelah 97 Tahun di Tangan Chevron

“Luka bakar sangat parah kita rujuk kita ke Rumah Sakit Umum Haryoto dan Rumah Sakit Bhayangkara,” jelasnya.

Ia juga mengatakan, dari korban luka-luka tersebut terdapat dua orang ibu hamil. Satu hamil sembilan bulan dan satunya hamil delapan bulan.

Evakuasi

Sementara itu, dari 300 kepala keluarga yang ada di Curah Kobokan hampir semuanya sudah dievakuasi. Hanya tinggal 10 orang lagi yang belum dan sedang dalam proses.

Menurutnya, proses evakuasi agak lambat dikarenakan kondisi atau medan yang sulit. Sebab, lumpur sudah menyebar dan semakin dalam di daerah sekitar.

“Evakuasi lamban karena mobil tidak bisa masuk ke lokasi dikarenakan lumpur itu setinggi hampir sampai lutut kaki. Kami juga dibantu komunitas jeep sehingga sampai saat ini masih proses evakuasi. Mudah-mudahan yang sisa ini segera bisa terevakuasi,” kata dia.

Akibat letusan gunung ini, rumah yang ada di Curah Kobokan juga hampir semuanya hancur. Sehingga warga diungsikan ke balai desa Penanggal, Lumajang.

Seperti Kiamat

Melansir Tribun Jakarta, salah satu korban selamat menceritakan detik-detik meletusnya Gunung Semeru.

Baca Juga :  Pengadilan Negeri Lhokseumawe Tolak Permohonan Suntik Mati Nazaruddin Razali

Warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang bernama Sinten (60) bersama cucunya ini berlari hingga 13 km menyelamatkan diri.

Keduanya berlari ke tempat lebih aman sebelum awan panas guguran menyapu rumahnya hingga luluh lantak.

Sinten bercerita, sebelum letusan terjadi, Dusun Curah Kobokan diguyur hujan abu bercampur batu.

Batu-batu itu meluncur deras menghantam genting rumahnya hingga menimbulkan suara gemuruh.

Sinten yang saat itu sedang bersantai di ruang tamu langsung terperanjat dan panik.

Ia kemudian menggedor pintu kamar cucunya, Dewi.

Dengan memekikkan suara, Sinten bilang kepada Dewi bila Gunung Semeru sedang tidak baik-baik saja.

Lalu Sinten menarik tangan Dewi untuk ikut berlari menyelamatkan diri.

“Gunung Semeru meletus dengan cepat. Sebelumnya, tidak ada tanda-tanda akan erupsi. Saat erupsi seperti kiamat,” katanya saat ditemui di RSUD dr. Haryoto, Lumajang.

Sesampainya di luar rumah, Sinten dan Dewi sempat menengok ke arah Gunung Semeru.

Gunung Semeru terlihat memuntahkan asap abu-abu tebal ke udara.

Suhu udara langsung terasa panas, menyengat kulitnya.

Baca Juga :  Breaking News ! Situsi Memanas, Massa Aksi Demonstrasi Kian Bertambah

Tak lama, langit berubah gelap, kilatan petir juga menyambar-nyambar.

“Saya tak sempat menyelamatkan harta benda. Saya tak memikirkan itu, yang terpenting selamat dari terjangan awan panas. Lima motor hangus dan rumah saya roboh,” paparnya.

Ia bersama Dewi berlari ke rumah tetangga yang berjarak sekira 1 km untuk berlindung.

Setelah langit kembali terang, mereka kembali berlari ke masjid sekitar 5 km.

Di sana mereka beristirahat sejenak dan merapalkan doa.

“Lalu, kami berjalan lagi hingga ke Dusun sebelah, Dusun Gunung Sawur sekira 7 kilometer. Napas sudah ngos-ngosan.

Selama dua jam, kami mengamankan diri di rumah warga Dusun Gunung Sawur. Setelah itu, kami dievakuasi menggunakan mobil pick up ke Desa Sumbermujur,” terang Dewi.

Bukannya tenang karena dapat lolos dari maut, pikiran Sinten dan Dewi berkecamuk.

Betapa tidak, mereka mendapat kabar jika satu keluarganya, Samsul Arifin (30), menjadi korban luka dan tengah dilarikan di RSUD dr Haryoto Lumajang.

Samsul Arifin saat itu sedang bertugas menjaga portal tambang dekat Gunung Semeru.

“Kami langsung bergegas mendatangi RSUD dr Haryoto. Saat ini mas Samsul sedang dirawat,” pungkasnya.

 

Komentar