29 Agustus 2022 - 06:02 WIB | Dibaca : 1,224 kali

Dulmuluk; Teater Tradisional Sumatera Selatan Peninggalan Abad 19

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Dalam upaya melestarikan dan mempromosikan kesenian Sumatera Selatan, Dulmuluk mulai dimainkan oleh orang-orang dari kalangan akademisi

SWARAID, PALEMBANG: Dulmuluk ialah salah satu kesenian tradisional Sumatera Selatan yang kental dengan cerita rakyat dan merupakan peninggalan dari abad 19.

Pada 6 Desember 2013, Dulmuluk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Selatan.

Dulmuluk merupakan pementasan teater tradisional yang pada awalnya berupa pembacaan syair dan pantun-pantun jenaka oleh Syech Ahmad Bakar atau Wan Bakar.

Wan Bakar adalah pedagang keturunan Arab yang datang ke Palembang pada abad ke-19. Ia sering melakukan perjalanan ke berbagai daerah termasuk Melayu dan Singapura

Wan Bakar  membacakan syair tentang kisah Abdul Muluk Jauhari di sekitar rumahnya di Tangga Takat, 16 Ulu Palembang.

Agar tampilan menjadi lebih menarik, lantas pembacaan syair tersebut diiringi pula dengan peragaan yang dilakukan beberapa orang dan diiringi dengan musik gambus dan terbangan.

Wan Bakar membacakan syair tentang kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari yang berasal dari Kitab Kejayaan Kerajaan Melayu yang selesai di tulis 2 Juli 1845.

Ternyata, masyarakat yang menyaksikan sangat terhibur dan menyukainya. Kemudian, Teater Dulmuluk pun menjadi lebih sering ditampilkan.

Dalam setiap pementasan, ada enam orang pemain dan 4 orang pengiring musik, yang memperagakan aktingnya di depan para penonton

Baca Juga :  Lomba Bidar Tadisional dan Perahu Hias Berhasil Sedot Ribuan Penonton

Syair dalam Teater Dulmuluk diambil dari Kitab Kerajaan Melayu. Terdapat dua versi tentang penulis kitab ini.

Versi pertama, adalah versi DR. Philipus Pieter Voorda Van Eysinga (seorang hakim di Batavia) yang menyebutkan bahwa penulis kitab ini adalah Raja Ali Haji bin Raja Achmad dari Pulau Penyengat, Riau.

Sedangkan versi kedua adalah versi Von de Wall yang menyebutkan bahwa penulisnya adalah Saleha, sepupu Raja Haji Ali.

Teater Dulmuluk memiliki beberapa keunikan. Pertama, di awal dan di akhir Teater Dulmuluk dipertunjukan tarian yang disebut Beremas.

Kedua, kalimat-kalimat yang digunakan para pemainnya terdiri dari pantun dan syair.

Ketiga, di beberapa adegan sering diselipkan nyanyian dan tarian yang mengungkapkan isi hati, seperti sedih, senang, atau marah.

Keempat, selama pertunjukan akan ditampilkan kuda Dulmuluk sebagai salah satu ciri khas.

Kelima, dialog yang digunakan oleh para pemain kerap menggunakan syair dan pantun.

Keenam, Dulmuluk hanya menceritakan dua jenis syair, yaitu Syair Abdul Muluk dan Syair Zubaidah Siti.

Baca Juga :  Awal November, PAD Palembang Terkumpul Rp906 Miliar, Herly Yakin Capai Target

Terakhir, seluruh tokoh dalam Dulmuluk diperankan oleh laki-laki, termasuk tokoh perempuan.

Meskipun kental dengan cerita kehidupan rakyat, teater ini mengandung banyak nasihat. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui hadam, yaitu sejenis syiar islam.

Pada masa itu, Dulmuluk cerminan kesenian masyarakat menengah ke bawah karena latar belakang para pemainnya. Pertunjukan rakyat ini dilakukan secara spontan dan jenaka.

Seiring perkembangannya, Dulmuluk dihadirkan sebagai hiburan pada acara pernikahan atau sejenisnya. Belakangan, masyarakat lebih memilih jenis hiburan lain dan Dulmuluk pun semakin terancam keberadaannya.

Dalam upaya melestarikan dan mempromosikan kesenian Sumatera Selatan, Dulmuluk mulai dimainkan oleh orang-orang dari kalangan akademisi.

Pementasan Dulmuluk semakin kekinian karena dimainkan oleh para mahasiswa, membuat kesenian ini memiliki pamor yang tinggi. Alhasil, Dulmuluk tampil di perhelatan internasional, pemerintahan hingga ke ulang tahun universitas.

Upaya kaum pembaharu yang berusaha merevitalisasi terlihat dari properti pementasan kental dengan pesan identitas yang modernitas mewarnai pertunjukan. Termasuk dialektika maupun ketokohan serta skenario pertunjukan Dulmuluk bisa dikatakan terstruktur.

Akan tetapi, ini ditanggapi oleh sebagian besar seniman Dulmuluk dengan mengatakan pagelaran kaum pembaharu tersebut bukan Dulmuluk, melainkan bangsawan atau teater biasa bukan lagi sebagai pertunjukan rakyat.

Baca Juga :  "The Culture of Komering" Sajian Keindahan Alam dan Kekayaan Budaya

Pemerintah Sumatera Selatan terus berupaya agar kesenian ini tetap lestari salah satunya dengan memperkenalkan Dulmuluk di sekolah-sekolah.

Dalam sebuah kesempatan, Rapanie Igama, peneliti Dul Muluk, mengatakan ada beberapa fungsi sosial Dul Muluk, di antaranya sebagai sarana hiburan dalam acara-acara keluarga dan adat.

“Fungsi ini tidak tergantikan oleh kesenian lain karena mengandung unsur kolektifitas, ketradisionalan, melibatkan berbagai cabang kesenian tradisional, dan dari segi penikmatnya, kesenian ini cenderung dihadirkan oleh anggota masyarakat yang berkeinginan melestarikan tradisi.”

Kemudian sebagai sarana integrasi sosial yang dapat diterima komunitas berbagai daerah di Sumatera Selatan sebagai kesenian tradisional bersama, dan dapat menjalankan peran sebagai alat promosi masyarakat dan pemerintah.

Terakhir, sebagai sarana pemerintah dalam menjalankan politik identitas melalui kesenian dalam kaitannya dengan hubungan kebudayaan tingkat regional, nasional, kawasan maupun mancanegara.

Fungsi ini tidak tergantikan selain karena karakteristik keseniannya juga karena identitas asal yang melekat pada Dulmuluk tidak terikat pada komunitas suku tertentu di Sumatera Selatan.

Komentar