22 November 2021 - 01:39 WIB | Dibaca : 1,651 kali

Bersiap! Indonesia Bakal Beralih ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARA, JAKARTA : TerraPower, perusahaan yang didirikan Bill Gates berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada 2028. Proyek ini bernilai US$ 4 miliar atau sekitar Rp 57 triliun yang separuhnya akan didanai oleh pemerintah Amerika Serikat (AS).

Tenaga nuklir menjadi salah satu energi alternatif dalam mengatasi kelangkaan bahan bakar fosil.

Energi yang dihasilkan dari tenaga nuklir digunakan sebagai pembangkit listrik yang dapat diandalkan menjadi pemasok kebutuhan listrik suatu negara.

Kenali dulu apa itu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah sebuah pembangkit daya thermal yang menggunakan satu atau beberapa reaktor nuklir sebagai sumber panasnya.

Prinsip kerja  PLTN hampir sama dengan sebuah Pembangkilt Listrik Tenaga Uap, menggunakan uap bertekanan tinggi untuk memutar turbin.

Putaran turbin inlah yang diubah menjadi energi listrik. Perbedaannya ialah sumber panas yang digunakan untuk menghasilkan panas.

Sebuah PLTN menggunakan Uranium sebagai sumber panasnya. Reaksi pembelahan (fisi) inti Uranium menghasilkan energi panas yang sangat besar.

Daya sebuah PLTN berkisar antara 40 Mwe sampai mencapai 2000 MWe, dan untuk PLTN yang dibangun pada tahun 2005 mempunyai sebaran daya dari 600 MWe sampai 1200 MWe.

Sampai tahun 2015 terdapat 437 PLTN yang beroperasi di dunia, yang secara keseluruhan menghasilkan daya sekitar 1/6 dari energi listrik dunia.

5 Negara teratas pengguna PLTN 

1.Rusia

Rusia menjadi negara di urutan teratas dalam memproduksi teknologi nuklir untuk pembangkit listrik dan untuk pertahanan negaranya.

Negara yang dahulunya bernama Uni Soviet ini sekarang telah 527 misil dan sumber daya nuklir sebanyak 6,490 buah

Baca Juga :  Pajak Karbon Selamatkan Lingkungan? Pelaku Usaha Masih Keberatan

2.Amerika Serikat

Negeri Paman Sam adalah salah satu negara yang cukup berkuasa dan memiliki hak spesial dalam DK-PBB.

Pentagon setidaknya sudah mempunyai 400 misil bersumber daya nuklir yang diproduksi dan disimpan di beberapa wilayah di AS.

Produksi nuklir AS diperkirakan mencapai 6,185 sumber daya

3.Tiongkok

Tiogkok merupakan salah satu negara yang berkuasa dan memiliki hak veto dalam DK-PBB.

Negara ini sudah mengembangkan nuklir sebagai pembangkit listrik, sistem pembangkit dan untuk militer

4.Pakistan

Pakistan adalah sebuah negara di Asia Selatan. Negara ini memiliki garis pantai sepanjang 1046 kilometer dengan Laut Arab dan Teluk Oman di bagian selatan

5.Korea Utara

Republik Rakyat Demokratik Korea, Korea Utara atau Korut saja adalah sebuah negara di Asia Timur yang meliputi sebagian utara Semenanjung Korea.

Korea Utara diperkirakan mempunyai nuklir yang secara aktif untuk melakukan pelatihan militer, seperti misil balistik jarak menengah.

Bagaimana jika Indonesia Mengembangkan energi nuklir?

Berdasarkan data Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), bahan baku nuklir berupa sumber daya uranium yang dimiliki Indonesia mencapai 81.090 ton dan thorium 140.411 ton. Selain itu, ada juga thorium sebanyak 140.411 ton.

Bahan baku nuklir tersebut tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Secara rinci, Sumatera memiliki 31.567 ton uranium dan 126.821 ton thorium. Kalimantan memiliki sebanyak 45.731 ton uranium dan 7.028 ton thorium. Sulawesi memiliki 3.793 ton uranium dan 6.562 ton.

Indonesia bersiap mengembangkan energi nuklir

Baca Juga :  Batubara Indonesia Tak ke Luar Kandang, Cina Bakal Gelap?

Pemerintah mendorong penguasaan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) seiring dengan upaya mencapai karbon netral atau net zero emission (NZE)  pada 2060.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sebagai pemrakarsa pembangunan pembangkit dengan energi nuklir ini telah melakukan kajian dan penelitian yang cukup intens.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya menyatakan dukungan pemerintah dalam pengembangan teknologi nuklir sebagai pembangkit listrik masa depan.

“Pemerintah akan mendorong penguasaan teknologi PLTN, melakukan kerja sama luar negeri, melakukan analisis multikriteria pemanfaatan PLTN, dan menyusun roadmap PLTN sebagai opsi terakhir,” katanya, Minggu (21/11/2021) sebagaimana dikutip dari Kompas.com

Selain itu, eksekutif juga turut mengupayakan penyiapan infrastruktur yang diperlukan untuk bergerak menggunakan nuklir sesuai panduan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Persiapan lainnya adalah pembentukan organisasi pelaksana implementasi program PLTN. Di sisi lain, proyek tersebut juga harus lebih dahulu mendapatkan persetujuan dari publik.

“PLTN akan dikembangkan 2035. Dalam peta jalan transisi energi menuju karbon netral, kami memproyeksikan PLTN pertama mulai COD 2049, dan pada 2060 kapasitas PLTN akan mencapai 35 GW,” terangnya.

Dalam RUPTL 2021–2030, PLN masih mempertimbangkan dan mengkaji implementasi pembangkit tenaga nuklir di Indonesia. Batan sebagai pemrakarsa pembangunan pembangkit dengan energi nuklir ini telah melakukan kajian dan penelitian yang cukup intens.

Meski begitu, regulasi dari pemerintah belum secara jelas memberikan panduan bagaimana arah pengembangan teknologi nuklir di Indonesia.

“PLN juga mempertimbangkan potensi penggunaan energi nuklir, terutama ketika cadangan energi fosil sudah menipis,” tulis berkas RUPTL.

Baca Juga :  Road Show Bus KPK Ditutup, Ratu Dewa Lepas Keberangkatan ke Kota Berikutnya

Adapun, beberapa teknologi dikaji untuk melihat potensi PLTN secara optimal. Di antaranya molten salt reactor technology yang berbentuk pembangkit floating sebagai alternatif pengembangan PLTN di samping PLTN konvensional.

Berdasarkan pentahapan pembangunan industri dan penetapan industri prioritas dalam RIPIN, disebutkan bahwa industri PLTN akan dikembangkan pada 2020–2024 dan 2025–2035, sedangkan industri logam tanah bahan bakar nuklir akan dikembangkan pada 2025–2035.

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meyakini kandungan uranium sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir cukup melimpah di Papua.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Riset dan Teknologi Bahan Galian Nuklir (PRTBGN) BRIN Yarianto Sugeng Budi Susilo mengatakan bahwa kondisi itu berhubungan dengan geografis Papua di masa lalu.

Saat ini, cadangan uranium terbesar di dunia adalah Australia, sedangkan Papua memiliki kedekatan secara geografis dengan benua tersebut. Bahkan keduanya sempat menyatu.

“Yang paling besar memang di Australia, ini mungkin karena kita punya sejarah Australia dengan Papua ini dulunya satu.

Jadi di utara (Australia/Papua Barat) Secara global, sumber penghasil uranium terbesar terdapat di Australia.

Meski begitu, produsen terbesar uranium adalah Kazakhstan, disusul Kanada, Australia, Nigeria, Namibia, serta Australia.

“Tapi kami belum melakukan eksplorasi mendalam di Papua,” katanya.

Sementara itu, sumber daya uranium yang telah diestimasi di Indonesia mencapai 89.000 ton uranium (tU3O8) dan sumber daya thorium mencapai 143.234 ton (tTh).

 

 

Komentar