25 November 2020 - 07:16 WIB | Dibaca : 1,916 kali

Diskusi Politik Api Kartini ; Keterwakilan 30% Perempuan di DPRD Belum Terpenuhi

Laporan : Diaz
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID – PALEMBANG, (25/11/20) : Asumsi publik yang masih minim dalam melihat peran perempuan di berbagai bidang menjadikan Api Kartini sebagai organisasi pemberdaya potensi perempuan dalam mengambil peran seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Dewan Pimpinan Kota Api Kartini Cabang Palembang mengadakan diskusi politik bersama kaum perempuan dari berbagai latar belakang profesi dengan mengambil konsep diskusi politik dan perempuan.

“Kita diskusi soal bagaimana peran perempuan dalam politik yang ada di Indonesia khususnya di kota Palembang. Jadi disini kita mengedukasi sosial, ekonomi, politik perempuan itu seperti apa bukan hanya perempuan itu bekerja di ranah domestik saja tapi kita bisa, ikut serta dalam pendidikan politik, ekonomi, sosial, dan budaya,” terang Desta Nur Khoiriyah.

Emansipasi wanita yang selama ini diperjuangkan oleh Api Kartini disebabkan melihat masih kurangnya peran aktif wanita yang sebenarnya mempunyai potensi sama dengan kaum pria. Desta menuturkan masih begitu minim nya peran wanita. Seperti contoh di bidang legislatif DPRD Kota Palembang untuk keterwakilan perempuan dalam 30% masih kurang jauh.

“Kedepannya kita edukasi lagi soal pentingnya politik dan perempuan. Karena apa, di kota Palembang ini untuk keterwakilan perempuan sebesar 30 persen itu masih kurang, dari 50 anggota DPRD kota Palembang itu hanya 4 yang anggota legislatif perempuan.” Paparnya kepada SWARAID.

Eka Subakti yang hadir sebagai pemateri dalam diskusi yang di adakan oleh Api Kartini menuturkan pentingnya kesadaran potensi yang dapat diambil perannya oleh kaum perempuan.

“Jadi perjalan diskusi ini diharapkan sebenernya kaum perempuan itu memahami tugas-tugas mendesak kaum perempuan dalam mendukung pencapaian ataupun arah dari tujuan masyarakat adil makmur.” Ujarnya.

“Jadi dalam kesempatan ini pendidikan politik ini diharapkan kaum perempuan memanfaatkan ruang-ruang kebijakan publik yang diputuskan oleh negara untuk terus memperluas partisipasi politik dalam perempuan di segala bidang.”

Lebih jauh Eka Subakti menjelaskan peluang yang mampu diisi oleh kaum perempuan sebagai potensi besar.

“Kebijakan negara sebenarnya sudah memungkinkan kaum perempuan untuk terlibat aktif misal diruang politik parlemen pemerintah mengalokasikan 30% suara untuk perempuan dan itu harus di maksimal”. ungkapnya

Selain itu Eka Subakti juga mengungkapkan, bahwa secara nasional pembangunan yang dirumuskan direncanakan pemerintah secara inklusif melibatkan kaum perempuan terlibat aktif dalam pembangunan.

“Ruang inilah yang kemudian diharapkan melalui pelatihan ini terjadi proses diseminasi kebijakan pemerintah kepada kaum perempuan.” Tambah Eka Subakti.

Terakhir Eka Subakti mengharapkan ada tindak lanjut yang harus dilakukan oleh Api Kartini dalam melakukan pemberdayaan wanita.

“Mesti ada tindak lanjut kegiatan-kegiatan serupa dengan variasi- variasi kegiatan misalnya melalui kegiatan senam masal mensosialisasikan kebijakan pemberdayaan masyarakat, jadi apapun ruang ruang pemberdayaan masyarakat pun itu bisa jadi panggung kaum perempuan untuk terlibat aktif berkampanye soal prokes, mensosialisasikan komfergensi penanggulangan stunting ekonomi hal-hal positif seperti itu mesti kedepan di sosialisasikan dikerjakan bersama-sama gotong royong di desa-desa misalnya.” Tutunya.