Lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941, Sutardji Calzoum Bachri yang akrab disapa Bung Tardji merupakan salah satu penyair bernama besar di Indonesia. Dunia kepenulisan sempat membeku semenjak meninggalnya Penyair Chairil Anwar. Kata-kata dalam karya-karya Sutardji yang tidak beraturan, bebas dari belenggu menjadikan dunia sastra Indonesia lebih segar. Keunikan karya Sutardji menjadikannya sebagai pembaharu bagi perpuisian Indonesia di era 70 an. Oleh sebab itu, ia dikenal dengan julukan Presiden Puisi Indonesia.
Salah satu karyanya yang terkenal yakni puisi berjudul “Jembatan” yang ia ciptakan pada tahun 1998. Puisi ini menjadi tak lekang dimakan waktu, karena puisi tersebut masih sesuai dengan kondisi hingga saat ini.
JEMBATAN
( Sutardji Calzoum Bachri)
Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
air mata bangsa. Kata-kata telah lama terperang-
kap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam
Isyarat dan kilah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah
orang berjuta.
Wajah orang tergusur
Wajah yang ditilang malang
Wajah legam para pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar
penonton etalase indah di berbagai plaza.
Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap :
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa
kini ada sesuatu yang terasa jauh-beda diantara kita ?
Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang
ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani
jurang di antara kita ?
Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang mereka pacangkan koyak-
moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara.
Gerimis tak mampu mengucap kibaran-
nya. Lalu tanpa tangis mereka menyanyi:
padamu negeri
airmata kami. (1998)
