11 Oktober 2022 - 19:27 WIB | Dibaca : 823 kali

Industri Kelautan dan Perikanan Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal

Laporan : Riski
Editor : Noviani Dwi Putri

Data saat ini menunjukan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina

SWARAID, JAKARTA: Industri kelautan dan perikanan dalam negeri belum dimanfaatkan secara maksimal.

Padahal sebanyak 54% asupan protein nasional merupakan kontribusi dari para nelayan melalui produk ikan serta makanan laut lainnya.

Dikatakan Menteri BUMN Erick Thohir, bahwa pemanfaatan sektor kelautan baru sebesar 6% saja.

Hal inilah yang menjadi dasar pemerintah harus membangun dan memperbaiki ekosistem kelautan di Tanah Air.

“Ini adalah sebuah potensi pertumbuhan industrialisasi yang belum kita garap serius agriculture dan kelautan. Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan agrikultur. Kelautan yang hari ini, kalau kita bicara industri kelautan itu baru 5%,” ujar Erick Selasa (11/10/22).

Walaupun  Indonesia memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional, akan tetapi data saat ini menunjukan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina.

“Berdasarkan data-data daripada tren Vietnam, Filipina dari jenis perikanan, jangan-jangan juga ikannya dari Indonesia,” kata Erick.

Erick pun mengatakan siap membangun ekosistem perikanan Indonesia lewat kolaborasi antara BUMN, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, hingga Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI).

Dia juga bakal mendorong BUMN seperti Himbara, Perum Perindo, Perinus, hingga PNM untuk terlibat dalam ekosistem tersebut.

“Tantangan di sektor perikanan sangat kompleks, kita harus ikut perubahan, kalau kita berdiam diri, kita tidak akan ke mana-mana,” katanya.

Erick mengatakan nelayan memegang peran penting bagi masa depan ekonomi serta kedaulatan pangan bangsa.

Selain itu, luas dan beragamnya kondisi perairan, Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar.

Menurutnya, potensi perikanan darat Indonesia sebesar 3 juta ton per tahun, sedangkan potensi perikanan laut mencapai 12,54 juta ton per tahun

“Maka, nelayan Indonesia tidak boleh jadi ayam yang kelaparan di lumbung padi. Dengan potensi sebesar itu bagaimana kita bisa memenuhi kesejahteraan nelayan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan nasional,” jelasnya.

Dalam kunjungannya ke sejumlah daerah, Erick mengaku kerap berdiskusi dengan para nelayan.

Dikatakannya, para nelayan sering kali dihadapkan pada sejumlah hal yang mempengaruhi produktivitas, baik sisi permodalan, pendampingan, hingga akses pasar.

“Yang saya pahami dari dialog dengan rekan-rekan dari kampung nelayan, sejatinya nelayan Indonesia bukan semata-mata ingin ‘disuapi’, melainkan membutuhkan satu ekosistem sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Erick ingin ekosistem perikanan meniru jejak kesuksesan ekosistem pertanian dalam program Makmur. Menurutnya, program Makmur yang terintegrasi dari hulu ke hilir telah menjangkau 200.000 hektare pada empat komoditas utama yakni sawit, tebu, jagung, dan padi.

“Dengan fokus pada produk yang laku di pasar itu pendapatan petani naik 46%,” pungkasnya.