6 September 2022 - 20:25 WIB | Dibaca : 1,270 kali

EK LMND Palembang Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM di Bawah Guyuran Hujan

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Harusnya pemerintah memperbaiki secara menyeluruh apa penyebab kebocoran APBN tersebut bukan malah mengalihkan subsidi BBM ke BLT

SWARAID, PALEMBANG: Gelombang protes terhadap kenaikan harga BBM terus bergulir, massa Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (EK LMND) Palembang sekira 50 orang melakukan unjuk rasa di simpang lima DPRD Provinsi Sumsel, Selasa (6/9/2).

Sejak pukul 14.00 WIB massa telah berada di titik kumpul di Jl Kamboja dan bergerak menuju titik aksi di simpang lima DPRD Provinsi Palembang.

“Kami EK LMND Palembang pada hari ini mengadakan aksi untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat Indonesia khususnya kota Palembang bahwasanya selama ini kita sudah ditipu dan dibodohi oleh pemerintah, bahwa implementasi terkait keadilan dan kesejahteraan yg tertuang di dalam Pancasila sebagai dasar negara adalah bentuk kebohongan dan kemunafikan dari pemerintah, dari Omnibus Law, RKUHP sampai pada hari ini BBM naik adalah wujud ketidakadilan di negeri ini, maka dari itu kami EK LMND berkomitmen untuk terus di garis massa, berada di samping rakyat untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Sergah Koordinator Aksi, Yoga Aldo Novensi.

EK LMND Palembang menilai pemerintah telah mengambil kebijakan yang salah dan sangat tidak relevan dengan kebutuhan rakyat yaitu dengan mengalihkan subsidi BBM  ke BLT agar subsidi yang diberikan lebih tepat sasaran.

“Dari naiknya BBM Subsidi jelas akan menaikan semua kebutuhan bahan pokok, selain bahan pokok cost pengeluaran pedagang akan bertambah, tentu pedagang akan menaikkan juga harga jual atau mengurangin porsi jualan ditambah juga driver ojek online tentu sangat merasakan efek kenaikan harga BBM ini.Artinnya Pengalihan Subsidi  jelas berdampak menyeluruh dan akan menyebabkan inflasi besar.” Jelas Yoga.

Disampaikan lebih lanjut, padahal indonesia adalah salah satu negara pengekpor minyak mentah dan gas, kenapa justru menaikan bbm? Jika merujuk pada harga minyak mentah dunia rata-rata menguat 70,5 persen (YoY) menjadi USD71,7 per barel.

Disisi lain OPEC mulai meningkatkan produksi secara bertahap meskipun tidak dalam jumlah besar. Data World Bank pada triwulan III tahun 2021, harga minyak mentah Brent naik 70,9 persen (YoY) menjadi USD73,0 per barel. Harga minyak mentah WTI meningkat 72,6 persen (YoY) menjadi USD70,6 per barel.

Sementara harga minyak mentah Dubai naik 68,0 persen (YoY) menjadi USD71,4 per barel. Seluruh jenis minyak mentah kini telah bergerak lebih tinggi dibandingkan harga pra pandemi.

Berdasarkan laporan Word Economic Outlock International Monetary Fund (IMF) edisi Januari 2022 menunjukkan bahwa setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,9 persen di 2021, perekonomian global diprediksi mengalami moderasi ke level 4,4 persen di 2022 atau turun -0,5 percentage points dibandingkan WEO Oktober 2021 dan 3,8 persen di 2023. Artiannya Pemerintah seakan akan mengabil langkah yang taktis.

Selain itu, banyak sekali sumur minyak suling yang belum dimanfaatkan secara masif oleh Pertamina dan tidak menutup kemungkinan Sumur Minyak Suling dimanfaatkan oleh mafia Migas.

“Harusnya pemerintah memperbaiki secara menyeluruh apa penyebab kebocoran APBN tersebut bukan malah mengalihkan subsidi BBM ke BLT. karna BBM Subsidi itu dimanfaatkan oleh seluruh manyarakat menengah ke bawah.” Tegas Yoga kembali.

Di bawah guyuran hujan, EK LMND Palembang menyampaikan 6 poin tuntutannya:

  1. Tolak kenaikan bahan bakar minyak subsidi. Wujudkan kedaulatan energi nasional.
  2. Menolak pengalihan subsidi bahan bakar minyak ke Bantuan Langsung Tunai.
  3. Revisi Perpres Nomor 191 Tahun 2014 tentang penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual eceran Bahan Bakar Minyak.
  4. Berantas mafia migas di Indonesia
  5. Percepat pembangunan industri nasional (kilang) untuk mengatasi ketergantungan importir minyak
  6. Percepat pembangunan energi baru dan terbarukan sebagai solusi atas krisis global.

Di akhir aksinya, massa membakar banner dan ban. Bagi mereka, hal tersebut sebagai wujud keresahan dan kemarahan masyarakat kepada pemerintah. Lalu massa membubarkan diri secara tertib sekira pukul 17.30 WIB.