21 Oktober 2022 - 21:52 WIB | Dibaca : 667 kali

Diklaim Mampu Tekan Angka Kematian, Kemenkes Beli Penawar dari Singapura

Laporan : Riski
Editor : Egi Saputra

Mudah-mudahan dengan pembelian obat ini yang sudah diuji coba hari ketiga di RSCM bisa menurunkan angka kematian. Selain kita cegah sumber penyakitnya, kita juga melakukan terapi dari sisi obat-obatan,

SWARAID, JAKARTA: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan secara resmi akan mendatangkan 200 vial obat penawar gangguan ginjal akut pada anak dari Singapura.

“Obatnya kita memang enggak punya, kita kemarin datengin dari Singapura. Saya sudah kontak teman saya, Menteri Kesehatan Singapura dan Australia. Kita mau bawa 200 vial dulu, karena satu vial bisa buat satu orang,” kata Budi dalam konferensi pers, Jumat (21/10/2022).

Budi menjelaskan, satu vial ini dapat dilakukan berapa kali injeksi. Adapun obat penawar tersebut adalah antidotnya fomepizole. Harga 200 vial obat tersebut senilai Rp 16 juta. Namun, pemerintah akan memberikan gratis kepada pasien.

Pemerintah mendatangkan obat antidotnya fomepizole ini karena melihat reaksi dari 10 anak di RSCM Jakarta. Pasalnya, ketika mengetahui ada obat penawar, pihaknya langsung mendatangkan obat tersebut untuk pengobatan pasien di RSCM. Setelah diberikan obat, sebagian besar kondisi pasien membaik dan stabil.

“Jadi kami merasa confident bahwa obat ini efektif. Sekarang pemerintah Indonesia mendatangkan lebih banyak lagi (obat),” ujarnya.

Budi berharap dengan adanya obat penawar tersebut dapat menurunkan angka kematian pasien gangguan ginjal akut. Apalagi, rata-rata pasien gangguan ginjal ini merupakan balita usia di bawah 5 tahun.

“Mudah-mudahan dengan pembelian obat ini yang sudah diuji coba hari ketiga di RSCM bisa menurunkan angka kematian. Selain kita cegah sumber penyakitnya, kita juga melakukan terapi dari sisi obat-obatan,” ucapnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data per 21 Oktober 2022, jumlah kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) pada anak sebanyak 241 kasus di 22 provinsi dengan 133 kematian atau 55% dari jumlah kasus.