26 Desember 2021 - 10:59 WIB | Dibaca : 1,687 kali

Bagaimana Jepang Mengolah Sampah Hingga Jadi Negara Bersih?

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Sekitar tahun 1960, jumlah sampah di Jepang mengalami peningkatan drastis dikarenakan meningkatnya populasi dan perkembangan ekonomi yang menimbulkan masalah serius.

Mulai tahun 1970-1980 mulailah dibangun pabrik pembakaran sampah dan semua sampah diolah dengan cara dibakar.

Alasan mereka membakar sampah adalah alasan sanitasi untuk mencegah aroma busuk dan penyakit, dan juga untuk memperpanjang masa pakai TPA.

Jika dibakar, maka volume sampah akan berkurang dan berubah menjadi abu. Dengan demikian, TPA bisa digunakan dalam kurun waktu yang jauh lebih lama.

Bagaimana proses pengangkutan sampah dari rumah menuju pabrik?

Sampah yang ada disekitar pabrik langsung diangkut ke pabrik pembakaran sampah. Sementara sampah yang jauh dari lokasi pabrik dikumpulkan terlebih dahulu di fasilitas penampung, kemudian diangkut menggunakan truk menuju pabrik pembakaran.

Begitu sampai ke pabrik, sampah akan dimasukkan ke dalam tempat penampungan sampah. Tak tanggung, luasnya menandingi sebuah apartemen 10 lantai.

Sampah kemudian diangkat menggunakan crane. Tenaga yang dipekerjakan untuk mengoperasikan crane sampah adalah tenaga berlisensi.

Menggunakan crane, sampah sekitar 5 ton dalam sekali pengangkatan diaduk dan kemudian dimasukkan ke dalam incenerator.

Sampah akan dibakar dengan suhu tinggi sekitar 850-950 derajat Celcius. Setelah dibakar, volume sampah berkurang menjadi 1/40 menjadi abu dan gas buang.

Pabrik pembakaran sampah beroperasi 24 jam, bekerja terus menerus tanpa istirahat. Crane bekerja tanpa istirahat untuk memasukkan sampah ke dalam incenerator.

Abu hasil pembakaran selanjutnya akan diangkut menggunakan truk dan dibawa menuju TPA.

Lalu bagaimana dengan gas buang yang dihasilkan pada proses pembakaran sampah?

Gas buang yang yang mengandung zat-zat berbahaya akan diserap oleh filter kain yang berbentuk tabung.

Gas buang dialirkan ke dalam filter ini, dan zat-zat berbahayanya akan terambil.

Untuk menjawab kekhawatiran warga mengenai timbulnya zat berbahaya akibat pembakaran sampah, maka hasil pengukuran gas buang setelah diolah akan diumumkan ke publik.

Di Yokohama, pengawasan gas buang dimonitor dengan begitu ketat, lebih ketat dibanding standar regulasi yang ditetapkan hukum.

Gas buang yang telah diproses akan dikeluarkan ke udara melalui cerobong. Tinggi cerobong pabrik pembakaran sampah di Yokohama paling rendah adalah setinggi 100 meter, dan paling tinggi 130 meter.

Pabrik pembakaran bukan hanya membakar sampah saja, panas yang dihasilkan dari pembakaran digunakan untuk menghasilkan uap dan dikirim ke kolam air panas terdekat sebagai sumber panas.

Uap tersebut juga digunakan untuk menghasilkan listrik, listrik yang dihasilkan digunakan untuk keperluan fasilitas pabrik dan sisanya dijual kepada perusahaan listrik dan juga digunakan warga sekitar.

Bagaimana menumbuhkan kesadaran bebas sampah?

Selama berlangsung periode antara tahun 1960-1970, Jepang mengalami problem serius berkenaan dengan sampah. Pencemaran lingkungan, keracunan, dan polusi udara menjadi gangguan bagi kehidupan masyarakat Jepang, terutama di ibukota Tokyo kala itu.

Barulah pada pertengahan 1970-an mulai digaungkan gerakan masyarakat peduli lingkungan atau dikenal dengan sebutan Chonakai di seluruh Jepang.

Secara bertahap, kelompok tersebut menumbuhkan kesadaran bagi warga Jepang terkait cara pembuangan, pemilahan, dan pengolahan sampah.

Gerakan ini menerapkan tema 3R (Reduse, Reuse, Recycle).

Namun kendati demikian, pemerintah Jepang kala itu belum  mempunyai Undang-undang yang mengatur soal pengolahan sampah, karena urusan lingkungan belum menjadi prioritas utama pemerintah.

Setelah kurang dari 20 tahun, barulah Undang-undang persoalan sampah disahkan oleh Parlemen Jepang.

Selain budaya orang Jepang yang peka terhadap kebersihan lingkungan, sistem pembuangan sampah yang tepat pun turut berperan penting dalam menjaga negara Jepang tetap bersih dan asri.

Setiap rumah tangga diwajibkan untuk memilah sampah yang hendak dibuang dalam kantong sampah yang terpisah sesuai jenisnya. Tidak boleh mencampur berbagai jenis sampah ke dalam satu kantong saja.

Bahkan di beberapa daerah diharuskan membungkus sampah dengan menggunakan plastik yang transparan.

Hanya ada sedikit tong sampah di jalanan Jepang, sampahnya dibuang kemana?

Biasanya, si tempat-tempat umum seperti jalan-jalan kota dan taman akan dijumpai banyak tempat sampah. Tidak begitu dengan Jepang.

Itu disebabkan, bahwa orang disana terbiasa membawa sampah sisa bungkus makanan dan lainnya.

Mereka akan membawa sampah sampai mereka menemukan tempat untuk membuang sampah dengan benar. Bahkan biasanya mereka membawa sampah dari bepergian sampai ke rumah.

Selain kesadaran masyarakat, penerapan Undang-undang persoalan sampah yang ketat, serta penerapan sistem pengolahan sampah yang tepat juga menjadi faktor penting dalam mewujudkan negara bersih bebas sampah.