“Sungai adalah rahim kita dan sungai adalah awal mula peradaban kita, oleh karena itu sungai harus kita jaga, karena bisa jadi sungai itu di masa depan airnya sudah tidak ada. Itulah yang harus kita jaga, mulai dari saat ini.” Sonia, koreografer Teatrikal Rahim Sungai Musi.
SWARAID – PALEMBANG, (14/10/20) : Teatrikal Rahim Sungai Musi dipentaskan diatas tepian Sungai Ogan yang merupakan anak dari sungai Musi, menceritakan tentang kebhinekaan dan keragaman etnis yang berada di sepanjang tepian Sungai Musi yang menjadikan sungai sebagai sarana komunikasi antar etnis yang bermukim di sepanjang sungai Musi.
Ide yang bermula dari pemikiran seorang wanita dan juga Dosen Seni dari Universitas PGRI Palembang dan UIN Raden Fatah Palembang, Sonia Anisa Utami bersama dengan tiga Budayawan Sriwijaya yang mengangkat tarian tradisional berawal dari permasalahan limbah sungai, khususnya limbah perkotaan, industri, dan juga berkurangnya aktivitas dan sosial yang akhirnya melahirkan tari sebagai media sosial antar masyarakat.
Sebagai totalitas dari sebuah karya, Sonia tidak melibatkan penari profesional, melainkan 43 orang perempuan dari delapan anak sungai Musi dengan beragam usia, dari remaja sampai yg sudah berumur dilibatkan didalamnya.
“Tantangannya dalam karya saya ini adalah tidak melibatkan penari profesional tetapi saya melibatkan masyarakat langsung khususnya 43 perempuan dari delapan anak sungai Musi. Yang akhirnya menjadi ketertarikan tersendiri.” Jelas Sonia kepada reporter SwaraID.
Dengan keterlibatan langsung masyarakat dalam Teatrikal Rahim Sungai Musi ini sebagai sebuah karya seni yang menceritakan persoalan sosial. Sonia sebagai koreografer dalam teaterikal Rahim Sungai Musi bercerita lebih lanjut,
“Saya senang sekali karena antusias masyarakat untuk mengkolaborasikan antara seni dan persoalan sosial, bahkan mereka mendeklarasikan sebagai perempuan-perempuan yang peduli sungai Musi. Inilah dampak dahsyat yang saya dapatkan dari penggarapan teatrikal ini ” ujar Sang Koreografer.
Proses pembuatan dan persiapan yang memakan waktu dua bulan ini, melibatkan berbagai kalangan masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, ataupun pekerja dari berbagai bidang, serta berbagai usia.
Konsep yang terinspirasi dari bunga teratai dengan membagi 43 penari menjadi dua yaitu sebagian mengenakan kostum kuning dan sebagian berwarna putih yang terinspirasi dari beberapa kain tradisional yg bermotif bunga teratai.
“Kami mengangkat dari beberapa variabel yang memang sering kita temukan di pesisiran sungai musi, seperti ibu yang mencuci, yang naik perahu sebagai nelayan , bahkan ada pasar terapung yang adalah sebagai tradisi masyarakat dulu yang saya ilustrasikan dalam koreo teater,” jelasnya.
Sonia lebih rinci menjelaskan terkait dua warna kostum yang membedakan penari tersebut,
“Jadi ada dua set yang kita gunakan, pertama dermaga dari satuan perahu yang membentu kelopak bunga, dan ada yang melingkar membentuk putik bungat teratai.”
Salah satu penari Teatrikal Rahim Sungai Musi yang juga pribumi asli Sungai Ogan, Siti Rohayani(62), diusianya yang sudah tidak muda lagi masih antusias berpartisipasi sebagai penari pada gelaran tersebut dengan begitu bangga berbagi pengalamannya kepada SwaraID,
“Kami memang pengen juga memang di ajak untuk ikut untuk mendayung perahu, selain itu memang awal latihan agak susah ngikutin tariannya” gesahnya.
Siti Rohayani pun mengaku kesulitan ketika harus mengimbangi perahu dikarenakan ada penarig lain yang menari diatas perahu tersebut.
Budayawan Sriwijaya, Conie Sema menjelaskan tentang adegan yang nampak pada Teatrikal Rahim Sungai Musi,
“Bahwa Rahim Sungai Musi ini adalah inspirasi dari bahwa manusia tidak bisa jauh dari aktivitas di sungai dan juga Rahim sungai Musi juga metafora Sungai sebagai pertemuan dari berbagai etnis dan budaya yang akhirnya kebudayaan baru yang lebih Egaliter.”
