SwaraID – Palembang (12/9/2020), Sekilas rumah semi permanen berwarna biru hijau yang di huni Imam tak ada bedanya dengan puluhan rumah panggung lainnya namun rumah panggung tersebut menyimpan banyak cerita di dalamnya.
sosok Paruh baya dengan mengenakan celana pendek itu tersenyum. dia, Imam Penyelam tradisional Sungai Musi di Kota Palembang, yang sudah menekuni pekerjaan nya sejak tahun 2010. Dengan hanya berbekal oksigen dari selang kompresor, Iman dan kawan kawan nya para pemburu harta karun ini menyelam. ada setitik asa ketika mereka menyelam, saat menyelam imam dan kawan kawan nya sering kali menemukan benda antik seperti mahkota, kendi, emas, guci, koin emas dan benda lainnya. ini lah sumber penghasilan penopang hidupm keluarga sehari hari.
Pria paruh yang tinggal di tanggo buntung menuturkan bahwa hasil yang di dapatkan tidak menentu tiap hari nya “Pendapatan kami tak menentu mbak, kadang kalau pas bernasib kami bisa dapat banyak namun ya kadang sagat kecil seklai perhari tidak menentu antara 500-10jt.” tutur imam
Imam(40) mengatakan situasi apa yang dirasakan nya saat di dalam air “berada di dalam air hanya bisa melihat jarak pandangnya 0 meter, sehingga hanya bisa mengandalkan tehnik meraba saja.” ucap imam.
Lebih lanjut imam memaparkan “Terkadang di dalam air itu tidak menentu kalo di darat hujan di dasar itu panas dan kita sebagai penyelam harus bisa melihat situasi apakah air surut tidaknya. Bisa sampai nyawa taruhan nya kalo kita salah mengira.” tegas imam
Penyelam harus bertahan di dasar sungai hingga 1 – 2 jam lamanya dengan berbagai resiko yang cukup besar, Penyelaman yang biasa dilakukan pada kedalaman 15 sampai 41 meter.
Menyelam terlalu lama bisa memilik beberapa pontesi untuk tubuh mulai dari terjadinya hipotermia hingga dapat mengalami keracunan oksigen ancaman bagi penyelam yang menyelam lebih dari 41 meter. Seperti nitrogen, tubuh menyerap oksigen tambahan akibat tekanan bawah air.
Resiko semakin besar seiring dalamnya titik sungai yang diselami semakin ke dalam tekananya akan semakin berbeda.
