Lebih gamblang, Gozy membeberkan bahwa apa yang dilakukan Arya ialah untuk tujuan politik kampus
SWARAID, PALEMBANG: Peristiwa yang terjadi pada kegiatan Diksar UKMK Litbang UIN Raden Fatah Palembang di Bumi Perkemahan Pramuka, Gandus, Jumat (30/9/22) menjadi begitu meluas diberitakan sejumlah media lokal hingga nasional.
Diberitakan di banyak media, bahwa yang menjadi korban penganiayaan ialah Mahasiswa Baru (Maba) yang dipukuli oleh belasan seniornya di UKMK Litbang dan mengakibatkan korban mengalami trauma.
Menelisik lebih jauh, tim SWARAID menemui secara langsung salah satu senior di UKMK Litbang yang turut hadir pada kegiatan Diksar tersebut.
M Gozy Ladriansyah menceritakan secara gamblang bagaimana kronologi di tempat kejadian.
Dibeberkan Gozy, bahwa apa yang diberitakan sejumlah media telah terjadi kesimpangsiuran dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Korban bukan mahasiswa baru
Menurut Gozy, Arya Lesmana Putera yang menjadi korban pemukulan bukanlah mahasiswa baru seperti yang digemborkan, melainkan ialah anggota aktif dari UKMK Litbang UIN Raden Fatah.
Gozy bahkan membuktikannya dengan menunjukkan foto Kartu Tanda Anggota (KTA) UKMK Litbang UIN Raden Fatah Palembang atas nama Arya Lesmana Putera.
“Ini jelas, bahwa Arya ini bukan Maba, bukan peserta diksar. Melainkan justru Arya ini salah satu panitia diksar.” Jelas Gozy.
Ini dijelaskan Gozy membantah tuduhan yang tersebar bahwa telah terjadi penganiayaan yang dilakukan senior kepada peserta diksar.
Arya dicurigai membocorkan informasi internal UKMK Litbang
Diceritakan Gozy lebih mendetail, para anggota UKMK Litbang telah mencurigai tindak tanduk Arya.
Para anggota mencurigai Arya telah membocorkan informasi internal UKMK Litbang kepada pihak lain.
“Terbukti, memang ada chat yang dia lakukan. Dia menyebarkan informasi ke Ketua Umum LDK. Dari situ mulai terjadi keributan antar panitia.”
Gozy pula lantas menunjukkan beberapa tangkapan layar yang menunjukkan bukti chat yang telah dilakukan Arya. Diduga, chat tersebut ditujukan kepada Ketua LDK Refah.
Politik kampus
Lebih gamblang, Gozy membeberkan bahwa apa yang dilakukan Arya ialah untuk tujuan politik kampus.
“Ini sangkut pautnya politik kampus. Kenapa dibilang politik kampus? karena Arya mengaku, dia ditugaskan untuk memberikan informasi strategi apa yang akan dilakukan. Dia bertugas dari Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa, Red) hingga Ospek ataupun PBAK, hingga Diksar.” Beber Gozy.
Gozy kembali menunjukkan foto kepesertaan Arya di UKMK LDK Refah.
“Jadi ini bukti, Arya ini bukan peserta diksar. Dia anggota aktif UKMK Litbang dan juga anggota aktif UKMK LDK Refah.” Tegas Gozy.
Telah terjadi perdamaian kedua belah pihak
Setelah peristiwa keributan, datang ke TKP anggota dari Polsek Gandus, Ampera, UKMK LDK, dan dari KAMMI untuk menjemput Arya. Namun ditolak oleh anggota UKMK Litbang karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Bukan kami tidak ngasih, tapi kami maunya orangtuanya yang menjemput.” Jelas Gozy.
Dilanjutkan Gozy, keesokannya yakni tanggal 1 Oktober, ada upaya orang tua Arya melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
“Ada upaya orang tuanya melapor ke polisi, dari UKMK Litbang juga melaporkan. Akhirnya difasilitasi Polsek Gandus. Ditemukan kedua belah pihak, dan akhirnya terjadi proses damai.”
Gozy pun menunjukkan surat perjanjian damai yang telah disepakati dan ditandatangani kedua belah pihak;
Pada kesempatan itu juga, dikatakan Gozy bahwa kedua belah pihak telah saling meminta maaf di hadapan polisi.
“Orang tuanya Arya minta maaf atas kelakuan anaknyan di hadapan polisi. Bahkan setelah itu saling tukar nomor hp. Perwakilan keluarga Arya yang datang waktu itu ialah orangtuanya dan ayuknya. Dan sudah ada kesepakatan nominal untuk pengobatan Arya, hampir 3 juta.”
Merasa sudah terjadi perdamaian, namun ternyata pada tanggal 2 Oktober mencuat pemberitaan mengenai peristiwa tersebut.
“Dengan keluarga juga sudah terjalin komunikasi. Tapi ternyata di tanggal 2 itu Arya didampingi Ampera dan orangtuanya ingin melaporkan kita. Ketika dihubungi, mereka jawab ketus ‘Tebuang kamu’ kepada kami.”
Lantas isu yang kembali merebak belakangan, bahwa korban bersedia melakukan perdamaian atas dasar paksaan.
“Tidak ada paksaan sama sekali, karena pada proses perdamaian itu disaksikan langsung oleh pihak Polsek Gandus. Dan di surat perjanjian damai itu jelas tertulis, bahwa tidak akan ada lagi tuntutan setelahnya.” Tukas Gozy.
Tidak ada pungli
Isu yang beredar pula menggemborkan bahwa UKMK Litbang UIN Raden Fatah telah melakukan pungli kepada peserta Diksar sebesar Rp300 ribu.
Dikatakan Gozy, bahwa pihak keluarga Arya menduga anaknya dianiaya karena telah membocorkan aksi pungli yang dilakukan para pengurus UKMK Litbang. Sekali lagi ia membantah.
“Seluruh UKMK juga menerapkan iuran, bukan cuma Litbang, seluruh UKMK. Untuk angkanya tentatif, sesuai dengan jumlah peserta dan kebutuhannya. UKMK Litbang menerapkan iuran itu dari tahun 2015 sampai sekarang.”
Indikasi perusakan nama organisasi
Atas pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta ini, Gozy menegaskan bahwa UKMK Litbang UIN Raden Fatah Palembang menduga bahwa ada pihak yang dengan sengaja ingin merusak nama organisasi. Bahkan tujuannya untuk membubarkan organisasi.
“Kami menyikapinya ini bagian dinamika kampus dan politik kampus.” Tegas Gozy.
Menuntut klarifikasi
Atas pemberitaan yang tidak sesuai fakta dan menyebar begitu masif, Gozy mewakili rekan-rekan seorganisasinya menuntut klarifikasi dari sejumlah media.
“Kami menuntut klarifikasi dari media-media yang telah memuat pemberitaan yang tidak benar, tidak berdasarkan fakta, dan menjatuhkan nama baik organisasi kami.” Tegas Gozy.
Rektor UIN angkat bicara
Menyikapi kekisruhan yang terjadi di kampusnya, Rektor UIN Raden Fatah Palembang Prof Nyayu Khodijah akhirmya buka suara melalui konferensi pers pada Kamis (6/10/22) di Kampus B UIN Raden Fatah Palembang.
Prof Nyayu menjelaskan terkait laporan hasil investigasi yang dilakukan kepada 10 mahasiswa.
“Dari hasil pemanggilan dan pemeriksaan oleh tim investigasi khusus pada 10 mahasiswa yang dilakukan Selasa lalu bahwa memang benar terjadi pemukulan antara pelaku dan korban yang sama-sama mahasiswa kami.” Kata Prof Nyayu.
Namun ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan diksar.
“Kasus pemukulan tersebut tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan diksar apalagi perpeloncoan. Setelah diselidiki, terjadinya pemukulan tersebut karena adanya indikasi penghianatan oleh korban. Dan ditegaskan bahwa korban ini bukan mahasiswa baru, tetapi korban dan pelaku berada di satu UKMK yang sama.” Terang Rektor.
Lebih lanjut Rektor mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pendalaman terhadap kasus ini.
