oleh

Resmikan BSI, Presiden : Harus Menjadi Bank Syariah Yang Universal !

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :101 kali | Durasi baca : 2 Menit

SWARAID-JAKARTA, (02/02/2021): Presiden Joko Widodo meresmikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang merupakan merger dari tiga bank syariah BUMN yakni PT Bank BRI Syariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah, Senin (01/02).

Nama Bank Syariah Indonesia dipilih karena manajemen dan pemegang saham ingin agar bank syariah dapat menjadi representasi Indonesia, baik di tingkat nasional maupun global. Logo BSI memiliki bintang bersudut 5 yang merepresentasikan 5 sila Pancasila dan 5 rukun Islam.

Hadir dalam peresmian tersebut Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa pendirian BSI bukan sekedar mengejar kebanggaan semata. Menurutnya Indonesia sudah sepantasnya memiliki bank syariah besar dan kuat. Ini akan menjadikan energi baru bagi ekonomi Indonesia.

“Jadilah energi baru bagi ekonomi Indonesia yang senantiasa menerapkan prinsip finaancial justice dan stability in investment yang telah terbukti berhasil membawa tiga bank Syariah yang bergabung menjadi BSI,” kata Erick.

Direktur Utama BSI, Hery Gunadi menyampaikan  untuk seluruh proses dan rangkaian merger ketiga bank tersebut memakan waktu sekitar 11 bulan. Proses tersebut meliputi due diligence, penandatanganan akta penggabungan, penyampaian keterbukaan informasi, dan perolehan izin dari OJK,

Baca Juga :  Penjelasan Panglima TNI Soal Penyerangan Polsek Ciracas

“Rangkaian itu telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan. Hari ini 1 februari 2021, bank hasil penggabungan sudah mulai beroperasi dengan nama dan identitas baru.” (Katadata.co.id)

Pada Desember 2020 BSI memiliki total aset sebesar Rp240 triliun, dengan total pembiayaan Rp157 triliun, total dana pihak ketiga Rp210 triliun, serta total modal inti sebesar Rp22,6 triliun. BSI juga memiliki lebih dari 1200 kantor cabang dan 20 ribu karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kinerja perbankan syariah di Indonesia lebih baik dibandingkan perbankan konvensional.

Jokowi menjelaskan dari sisi aset, perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan 10,97 persen per tahun, sedangkan perbankan konvensional naik 7,7 persen. Dari sisi dana pihak ketiga, perbankan syariah tumbuh 11,56 persen, sedikit di atas bank konvensional 11,49 persen. Sedangkan dari sisi pembiayaan, tumbuh 9.42 persen per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perbankan konvensional yang hanya tumbuh 0,55 persen.

“Indikator-indikator seperti ini saya kira patut kita catat. Dengan data seperti itu saya meyakini Insya Allah bahwa ekonomi syariah indonesia akan tumbuh sangat cepat, akan berkontribusi besar dalam mewujudkan kesejahteraan umat dan masyarakat kita.” (VOA Indonesia)

Baca Juga :  Mulai 1 Februari, Penjualan Pulsa Hingga Token Listrik Akan Dikenai Pajak

Presiden juga berpesan agar BSI harus menjadi bank syariah yang universal, yakni harus terbuka, inklusif dan harus menyambut siapapun yang ingin menjadi nasabah tidak terbatas untuk umat muslim saja.

Pada unggahan akun instagramnya, Jokowi berpesan,

“Saya berharap, Bank Syariah Indonesia benar-benar menjadi bank syariah yang universal yang terbuka, inklusif, menyambut baik siapapun yang ingin menjadi nasabah, bertransaksi atau berinvestasi secara syariah. BSI saya harapkan mampu memaksimalkan penggunaan teknologi digital, menarik minat generasi muda untuk menjadi nasabah, dan turut berperan dalam memajukan ekonomi serta keuangan syariah di Indonesia.” Unggahnya.

Komentar

Berita Lainya