Penulis: M. Asri Lambo*)
Kelapa dalam atau kelapa santan merupakan salah satu komoditas andalan di Sumatera Selatan.
Selain menghasilkan berbagai produk kebutuhan masyarakat, kelapa juga benilai ekspor yang menyumbang pertumbuhan ekonomi daerah.
Jika ditotal, kurang lebih ada 70.000 hektar kebun kelapa yang ada di Sumatera Selatan, terbesar adalah di Kabupaten Banyuasin kurang Lebih 50.000 hektar, kemudian Muba 10.000 hektar, dan sisanya di OKI dan Berbagi kabupaten yang ada di Sumatera Selatan.
Namun saat ini petani kelapa kembali menjerit dikarenakan harga kelapa di tingkatan petani tak kunjung naik harganya, sejak tahun 2022 sampai saat ini harga kelapa hanya berkisar di 1.200-1.700/butir.
Disarankan pemerintah pusat dan daerah untuk segera mempercepat akses pasar lokal, nasional dan ekspor agar harga kelapa dapat meningkat daya saingnya, dengan begitu harga kelapa di tingkatan petani dapat naik.
Kemudian dalam jangka panjang harus segera dibentuk BUMN, BUMD sampai BUMDes untuk Pengolahan terpadu kelapa ini agar tidak tergantung terus dengan pasar luar.
Selain itu pinjaman perbankan dan koperasi harus menyentuh akar rumput petani serta bantuan sarana prasarana /infrastruktur pertanian dengan begitu petani bisa keluar dari kesengsaraan.
Sriwijaya Coconut Care Movement (SCCM) merupakan gerakan inisiatif kami karena melihat beberapa organisasi yang lain tidak ada gerakan kepedulian terhadap kondisi saat ini, baik itu organisasi nasional maupun organisasi internasional kelapa saat ini, padahal dibawah (petani) dalam kondisi kritis bahkan beberapa petani sudah berencana menjual kebunnya untuk kemudian diganti dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan secara ekonomis saat ini.
Padahal dasar hukum Pasal 33 UUD 1945, UU No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani dan Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Petani & Nelayan sudah memberikan ruang konstitusional untuk melakukan upaya perjuangan untuk kesejahteraan petani
Pemerintahan dan stakeholder organisasi harus jemput bola dengan kendaraan hukum yang ada, karena di depan ada resesi yang mengancam. Apabila kita terlambat petani kita bisa celaka.
*)Koordinator Sriwijaya Coconut Care Movement (SCCM)
