24 Desember 2021 - 16:32 WIB | Dibaca : 1,065 kali

Perjuangan Rupiah; Mata Uang Nasional, Identitas, dan Kedaulatan Negara

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA : Rupiah memiliki sejarah perjuangan yang panjang, tidak banyak orang yang tau, Rupiah bukanlah nama mata uang nasional pertama Indonesia.

Pada masa awal kemerdekaan di tahun 1945-1946, pondasi kenegaraan kita masih banyak yang belum tertata rapi dan masih bergantung dengan sistem yang ditinggalkan Jepang dan Belanda, salah satunya mata uang.

Di awal kemerdekaan, ada beberapa mata uang yang berlaku sebagai alat pembayaran di Indonesia, misalnya mata uang pendudukan Jepang dan mata uang peninggalan pemerintahan Hindia Belanda.

Hal ini tentu membuat masyarakat jadi bingung dan situasi ekonomi menjadi sulit untuk dianalisis secara akurat.

Masyarakat menjadi bingung bagaimana cara menentukan harga jika menggunakan mata uang yang berbeda, ditambah lagi di akhir September 1945, tentara NICA diprediksi bakalan datang untuk mengambil alih pemerintahan di Indonesia termasuk sistem perdaganyannya akan dikuasai lagi oleh Hindia Belanda.

Itu artinya, walaupun saat itu Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan, tapi Indonesia belum memiliki kedaulatan dan identitas yang kuat, soalnya proses perdagangan sehari-hari saja masih menggunakan mata uang warisan dari kolonial.

Anggota Badan Pengurus Komite Nasional Indonesia Pusat, Sjafruddin Prawiranegara mengusulkan ke Wakil Presiden Mohammad Hatta agar pemerintah segera mengeluarkan mata uang Republik Indonesia untuk menggantikan semua mata uang yang berlaku saat itu.

Usulan tersebut disetujui oleh Mohammad Hatta dan segera dieksekusi Menteri Keuangan Alexander Andries Maramis.

Dari sini perjuangan mata uang nasional Indonesia dibentuk sebagai salah satu poros kedaulatan negara yang penting sekali untuk perdagangan dan ekonomi masyarakat.

Tentu saja proses yang dijalani tidak mudah, dimulai dari pencarian pabrik percetakan uang di Jakarta, Malang, Solo, dan Yogyakarta.

Tapi pertempuran yang meletus di berbagai daerah menyebabkan banyak jalan diblokir sehingga mempersulit koordinasi dan pencetakan uang pertama Indonesia.

Meskipun begitu, berkat kerja keras para pejuang, sukarelawan, dan perusahaan yang mendukung Indonesia akhirnya mesin pencetak uang berhasil didapat dan memproses pencetakan uang pertama di Indonesia.

Oeang Republik Indonesia (ORI)

Mata uang pertama yang dicetak pertama kali saat itu bukanlah Rupiah, melainkan Oeang Republik Indonesia (ORI). ORI ketika itu punya emisi 1 sen, 5 sen, 10 sen, Setengah Rupiah, 1 Rupiah, 5 Rupiah, 10 Rupiah, dan 100 Rupiah.

Tapi tidak serta merta ORI bisa diadaptasi langsung oleh masyarakat, apalagi bisa dengan cepat dapat terdistribusi ke seluruh pelosok daerah.

Karena ketika itu tentara NICA mencoba menjegal peredaran mata uang ORI dengan cara menggagalkan upaya distribusi mata uang nasional.

Karena banyaknya ancaman keamanan, pabrik pencetakan ORI terpaksa dialihkan dari Jakarta ke Malang.

Tentara NICA juga menyebarkan uang NICA di tanggal 6 Maret 1946 untuk membuat masyarakat menjadi ragu menentukan mana mata uang yang akan digunakan dalam perdagangan.

Meskipun banyak tekanan dari Belanda, namun  tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengadopsi mata uang NICA, mereka tetap memilih menggunakan ORI.

Pada tanggal 30 Oktober 1946, pemerintah Indonesia resmi menetapkan ORI sebagai mata uang sah di Republik Indonesia yang dijuluki sebagai Uang Putih, sementara uang NICA dijuluki sebagai Uang Merah.

Cetakan uang ORI secara gencar terus dikirim ke seluruh Pulau Jawa dan Madura menggunakan kereta api. Masyarakat menyambut baik peredaran ORI. Pedagang pasar dan penarik becak lebih memilih dibayar memggunakan ORI meski dengan harga diskon daripada dibayar dengan uang NICA dengan harga normal.

Saat itu, banyak masyarakat yang lebih menghargai kemerdekaan dan kedaulatan negara dibandingkan keuntungan secara ekonomi yang sifatnya hanya sementara.

Tapi NICA tidak tinggal diam, mereka tetap saja berusaha menjatuhkan ORI dan menyebarkan uang NICA dengan berbagai cara.

Mulai dari mencetak uang NICA menggunakan bahasa Indonesia, menyebarkan uang ORI palsu untuk memicu inflasi, hingga bentrok fisik memaksa para pedagang agar bertransaksi menggunakan uang NICA, ditambah lagi Perjanjian Renville yang mempersempit wilayah Indonesia.

Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA)

Pemerintah daerah pun tidak menyerah dan tetap melawan dominasi uang NICA dengan inisiasi membuat uang ORI masing-masing daerah yang disebut ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah).

Contoh ORIDA antara lain yaitu ORIDABS Banten, ORIPS Sumatera, ORITA Tapanuli, ORIPSU Sumatera Utara, ORIBA Banda Aceh, ORIN Kabupaten Nias dan ORIAB Kabupaten Labuhan Batu yang merupakan uang yang sifatnya sementara sebagai alat jual beli yang hanya berlaku di daerah tersebut berdasarkan pernyataan penguasa setempat.

Jenis ORIDA beragam, mulai dari bon, Surat Tanda Penerimaan Uang, Tanda Pembayaran Yang Sah, bahkan ada yang berbentuk Mandat.

Persaingan ORI dan uang NICA terus berlangsung hingga akhirnya Bung Hatta memenangkan kedaulatan negara Indonesia lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani 27 Desember 1949.

Uang RIS

Akhirnya pada 1 Januari 1950, ORI dan uang NICA mulai ditarik dari peredaran dan diganti dengan uang RIS (Republik Indonesia Serikat) yang satuannya diberi nama Rupiah.

Per tanggal 1 Mei 1950, ORI sudah bukan alat pembayaran yang sah dan masa penukaran uangnya dibatasi sampai tanggal 21 Juni 1950.

Rupiah

Tapi ternyata format negara serikat ini membuat konstitusi negara jadi ada dua, yakni RIS dan UUD 1945, akhirnya DPR memutuskan pemerintahan beralih menjadi Negara Kesatuan di 17 Agustus 1950 dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mana mata uang resmi menjadi Rupiah hingga sekarang.

Untuk diketahui, tidak semua negara di dunia memiliki mata uang sendiri seperti Indonesia, contohnya Panama.

Panama menggantungkan mata uangnya ke Dolar Amerika, akibatnya ketika Panama memiliki perselisihan dengan Amerika di tahun 1988, aset negara Panama di bank Amerika langsung dibekukan begitu juga transfer mata uang negara Panama bisa langsung macet.

Akibatnya, perbankan di Panama banyak yang tutup dan perekonomian langsung lumpuh karena kurangnya likuiditas keuangan di jalur perdagangan.

Kedaulatan mata uang memiliki peranan penting untuk meredam efek berantai dari krisis ekonomi yang terjadi di negara lain.