Jumat, 8 Oktober 2021 10:16 WIB

Penyelidikan Kasus ‘Tiga Anak Saya Diperkosa’ Dihentikan, Ramai #PercumaLaporPolisi

Oleh : | Editor : Noviani Dwi Putri
Dibaca :162 kali | Durasi baca : 2 Menit

SWARAID-JAKARTA, (08/10/2021): Penegakan hukum di Indonesia kembali menjadi sorotan masyarakat, hal itu setelah kasus yang baru-baru ini muncul terkait pengakuan seorang ibu di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang melaporkan bahwa tiga anaknya diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri.

Sayangnya, laporan atas tindakan tersebut dihentikan oleh Polres Luwu Timur dengan alasan gelar perkara tersebut belum cukup bukti untuk menindak terduga pelaku, yakni sang ayah korban.

Kasus dugaan ‘Tiga Anak Saya Diperkosa’ saat ini menjadi viral di media sosial, dan ramai tagar percuma lapor polisi.

Menyoroti hal tersebut, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) sebagaimana lembaga yang memiliki fokus terhadap isu reformasi sektor keamanan, terutama dalam perbaikan institusi kepolisian memberi tanggapan.

KontraS menyebut bahwa bukan sekali dua kali terjadi, pihak aparat penegak hukum yang tak menindaklanjuti laporan masyarakat.

“Tidak hanya sekali dua kali Kepolisian @DivHumas_Polri tidak menindaklanjuti pelaporan. Keadilan & pengungkapan kebenaran yang diharapkan sering kali terbenam begitu saja. #PercumaLaporPolisi,” katanya, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari akun Twitter @KontraS, Kamis, 7 Oktober 2021.

Baca Juga :  Buronan Pencuri Kabel LRT Ini Keok Dihantam Timah Panas Polisi

Dalam hal ini, KontaS pun mencoba membeberkan sejumlah kasus yang berhenti tanpa ada keadilan bagi sang korban.

Ternyata memang bukan kasus terbaru yang menimpa tiga orang anak di Luwu Timur, tetapi KontraS menuturkan seperti kasus penyiksaan terhadap korban yakni Henry Bakary tak kunjung ditindaklanjuti kepolisian.

Padahal Komnas HAM sudah menyatakan bahwa korban yang mengalami penyiksaan oleh aparat berujung kematian itu, telah terjadi hal yang menyimpang.

“Dalam kasus Henry Bakary, korban penyiksaan aparat berujung kematian, dengan kepala dibungkus plastik. Kepolisian tidak melanjutkan ke proses hukum pidana. Padahal Komnas HAM menyatakan telah terjadi penangkapan sewenang-wenang dan terjadi kekerasan,” katanya.

Kemudian, KontraS juga menyampaikan kejadian yang hampir serupa dengan kasus itu yang tak juga diusut tuntas pihak kepolisian.

“Kasus serupa, penyiksaan berujung kematian yang menimpa Sahbudin juga tak menuai keadilan. Prosesnya hanya berhenti pada sanksi etik untuk 5 anggota Kepolisian yang menjadi pelaku dan tidak berlanjut ke proses pidana,” tuturnya.

Bahkan, lebih parahnya lagi terkait kasus korban penembakan oleh aparat di aksi reformasi dikorupsi, sampai dengan saat ini masih belum ada tanda-tanda kelanjutan perkaranya.

Baca Juga :  Kasus Perkosaan Tiga Anak di Luwu Timur Harus Dibuka Kembali ! KSP Angkat Bicara

“Lebih tragisnya, untuk kasus Yusuf Kardawi, korban penembakan aparat di Aksi #ReformasiDikorupsi, hingga kini belum ada perkembangan berarti dari penyelidikan kepolisian. Padahal keluarga korban sangat menanti penuntasan kasus secara berkeadilan,” katanya. (pikiranrakyat.com)

Dapatkan update berita setiap hari dari SWARA.ID.
Mari gabung di sosmed SWARAID OFFICIAL untuk informasi terkini lainnya: https://linktr.ee/swaraidofficial dan Grup Telegram SWARAID OFFICIAL, caranya klik link https://t.me/swaraidofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Komentar

Berita Lainya