13 September 2020 - 03:06 WIB | Dibaca : 3,264 kali

Masa Paceklik; Petani di Sumber Marga Telang kencangkan Ikat pinggang

Laporan : Novi
Editor : Ki Edi Susilo

Swara.id – Banyuasin (13/09/2020) Sebagai salah satu lumbung pangan di Sumatera Selatan dan masuk empat besar Nasional sebagai kabupaten penyumbang pangan di Indonesia, Kabupaten Banyuasin masih menyisakan kisah miris bagi para petaninya. Seperti yang terjadi di Desa Talang Lubuk, salah satu desa di kecamatan Sumber Marga Telang. Bertani sebagai mata pencaharian utama penduduk desa tersebut tidak bisa memenuhi kesejahteraan mereka. Selain keterbatasan lahan, faktor alam juga sangat berpengaruh besar.

Faktor Air asin dan zat asam yang tinggi cukup menghambat pertanian di daerah ini sehingga di desa ini petani hanya bisa melakukan penanaman padi setahun sekali. “Kami disini tidak bisa lebih dari satu periode, hanya bisa sekali panen dalam setahun. Karena kalau sudah jarang hujan, air asin masuk, zat asam juga tinggi, belum lagi hama ”  terang Nanang, salah satu petani.

Biasanya petani mulai menabur  benih di bulan Oktober- Desember tergantung dengan kondisi cuaca, dan mulai panen di bulan Februari- April. ini yang menyebab kan juga masih banyak waktu yang terbuang dan kurang produktiv sebab pertanian nya masih mengandalkan hujan.

“Dalam setahun kami lebih banyak nganggur, seperti sekarang. Sekarang ini lagi paceklik, belum mulai tabur benih. Tidak ada pemasukan di saat-saat begini.   Paling jual kelapa bagi yang punya kebun. Susahnya lagi  sekarang panen sudah pakai mesin, biasanya kami bekerja sebagai buruh panen, sekarang sudah tidak bisa. Yang lebih sedihnya lagi kalau gagal panen ” Tambahnya.

senada dengan Nanang. Antok petani lain di sumber marga telang menuturkan bahwa Mengetatkan ikat pinggang, dan berhemat dalam menggunakan hasil panen masih menjadi solusi ampuh. karena hanya sedikit dianatara petani yang punya mata pencaharian lain.  yang masih memilili kebun kelapa masih bisa memanfaatkan komoditi ini di musim paceklik, tapi tentunya tidak semua punya lahan untuk berkebun. Apalagi ada penurunan harga kelapa di masa pandemi, yang tadinya mencapai Rp.3000/butir kupas, sempat anjlok sampai Rp.1500/butir kupas.

“Kalau yang punya kebun enak, bisa jual kelapa. Kalau kami yang tidak punya kebun kelapa tidak bisa apa-apa. Mau kerja juga disini tidak ada, keterampilan lain juga tidak punya. Terpaksa berapa hasil panen dihemat-hemat biar cukup untuk makan setahun ” Gesah Antok.