SWARAID, JAKARTA : Pemerintah telah mengeluarkan larangan masuk WNA dari sejumlah negara di Afrika untuk mencegah masuknya virus Corona varian baru, Omicron. Kebijakan tersebut menuai kecaman dari beberapa pemimpin negara benua hitam tersebut.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa salah satunya. Ramaphosa mengaku kecewa terkait larangan perjalanan yang diterapkan terhadap negaranya dan negara-negara tetangganya.
Ia menilai, tindakan yang diambil Indonesia itu tidak dapat dibenarkan. Karena itu, Ramaphosa meminta supaya larangan tersebut segera dicabut.
Tak hanya Indonesia, Ramaphosa juga meminta Inggris, AS dan Uni Eropa untuk mencabut larangan tersebut.
Melansir Poskota, dalam pidatonya pada Minggu (28/11/21), Ramaphosa mengatakan tidak ada dasar ilmiah untuk melarang perjalanan, dan bahwa Afrika Selatan adalah korban diskriminasi.
Ia juga berargumen bahwa larangan perjalanan tidak akan efektif dalam mencegah penyebaran varian baru ini.
“Satu-satunya efek larangan perjalanan ialah semakin menciderai ekonomi negara-negara terdampak dan mengurangi kemampuan mereka untuk merespons, dan memulihkan diri dari, pandemi,” ujarnya.
Ia meminta negara-negara yang sudah melarang perjalanan untuk “segera membatalkan keputusan mereka sebelum ada kerugian yang lebih besar pada ekonomi kami,” ujarnya.
Ramaphosa menyebut kemunculan varian Omicron seyogianya menyadarkan dunia tentang ketidaksetaraan vaksin – peringatan bahwa sampai semua orang divaksinasi, kemunculan varian baru tak terelakkan.
Tidak ada kekurangan vaksin di Afrika Selatan sendiri, dan Ramaphosa meminta lebih banyak masyarakat untuk divaksinasi, mengatakan bahwa itu adalah cara terbaik melawan virus ini.
Pernyataan sebelumnya oleh Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan pada Sabtu (27/11/2021) juga mengkritik larangan perjalanan dengan keras, mengatakan bahwa Afsel dihukum – bukannya dipuji – dalam menemukan Omicron.
Pernyataan itu menambahkan bahwa reaksinya benar-benar berbeda ketika varian baru ditemukan di tempat lain di dunia.
Seorang pejabat Uni Afrika mengatakan kepada BBC bahwa negara-negara maju harus disalahkan atas munculnya varian tersebut.
“Apa yang terjadi saat ini tidak dapat dihindari, ini adalah akibat dari kegagalan dunia untuk memvaksinasi secara adil, mendesak dan cepat.”
“Ini sebagai akibat dari penimbunan (vaksin) oleh negara-negara berpenghasilan tinggi di dunia, dan sejujurnya itu tidak dapat diterima,” kata ketua bersama aliansi pengiriman vaksin Uni Afrika, Ayoade Alakija.
“Larangan perjalanan ini didasarkan pada politik, dan bukan pada sains. Itu salah … Mengapa kita mengunci Afrika ketika virus ini sudah ada di tiga benua?” ujar Ramphosa seperti dikutip Reuters, Senin (29/11/2021).
Bukan tanpa alasan pihak imigrasi Indonesia mengeluarkan kebijakan tersebut. Sebab, virus Omicron telah dikategorikan sebagai “variant of concern” oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Omicron ditemukan pada sebagian besar infeksi yang ditemukan di provinsi terpadat Afrika Selatan, Gauteng, dalam dua minggu terakhir. Bahkan kini sudah menyebar ke provinsi-provinsi lainnya di negara tersebut.
WHO telah memperingatkan supaya negara-negara tidak terburu-buru menerapkan larangan perjalanan dan mengatakan mereka harus mencari “pendekatan yang saintifik dan berbasis risiko”.
Namun, sejumlah larangan telah diterapkan dalam beberapa hari terakhir di tengah kekhawatiran akan varian tersebut.
Imigrasi RI mulai mengeluarkan kebijakan melarang orang asing yang mempunyai riwayat perjalanan mengunjungi Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, dan Nigeria dalam kurun waktu 14 hari sebelum masuk Indonesia pada pekab kemarin.
“Jika ada orang asing yang pernah berkunjung ke negara-negara tersebut dalam kurun waktu 14 hari ke belakang, maka akan langsung ditolak masuk Indonesia di Tempat Pemeriksaan Imigrasi,” kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Arya Pradhana Anggakara, dalam pernyataan tertulisnya.
Ditjen Imigrasi juga menangguhkan sementara pemberian visa kunjungan dan visa tinggal terbatas bagi warga dari negara-negara tersebut.
Menurut Angga, kebijakan baru ini menyikapi dinamika munculnya varian baru Covid-19 B.1.1.529.
Beberapa kasus kini telah diidentifikasi di Eropa – dua di Inggris, dua di Jerman, satu di Belgia dan satu lagi di Italia, sementara kasus yang dicurigai ditemukan di Republik Ceko.
Israel, tempat varian baru itu telah dikonfirmasi, memutuskan untuk melarang semua orang asing memasuki negara tersebut mulai Minggu tengah malam.
Tindakan itu akan berlangsung selama 14 hari, menurut Times of Israel. Kasus Omicron juga telah terdeteksi di Botswana, Hong Kong dan Israel.
Ratusan penumpang yang tiba di Belanda dari Afrika Selatan langsung dites terkait varian baru itu. Sebanyak 61 orang dari dua penerbangan KLM positif Covid-19 dan telah dikarantina di sebuah hotel dekat bandara Schiphol Amsterdam sementara mereka menjalani tes lebih lanjut, kata pejabat Belanda.
Dari 61 penumpang itu, Omicron telah terdeteksi pada 13 orang. Belanda saat ini sedang berjuang dengan lonjakan kasus yang mencapai rekor. Lockdown sebagian diperpanjang dan mulai berlaku pada Minggu malam.
Varian baru Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November.
Pengunjung dari Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Angola, Mozambik, Malawi, Zambia, Lesotho, dan Eswatini tidak akan dapat memasuki Inggris Raya kecuali mereka adalah warga negara Inggris atau Irlandia, atau penduduk Inggris.
