SWARAID, PALEMBANG: Jelang tahun baru Imlek tahun 2573 yang jatuh pada tanggal 1 Februari mendatang., Klenteng Chandra Nadi Soei Goeat Kiong 10 Ulu menyiapkan 2000 box sembako yang akan dibagikan kepada para pengurus klenteng serta masyarakat sekitar.
Aksi berbagi ini merupakan sumbangsih dari beberapa komunitas dan klenteng lain yang memiliki tujuan yang sama, yakni berbagi denagn masyarakat kurang mampu.
Seperti salah satu penyumbang sembako dari Pundi Amal Paramita Foundation, Yohanes (41) mengatakan bahwa pemberian bantuan sosial ini berupa sembako untuk jemaat yang kurang mampu di Klenteng Chandra Nadi.
“Iya ini sembako kami berikan kepada Klenteng Chandra Nadi yang akan diberikan kepada masyarakat kurang mampu,” ujarnya saat diwawancarai SWARAID, Minggu (23/1/22).
Ia juga menjelaskan, bahwa sembako ini terdiri dari gula 1 kg, aneka kue, minyak, dan bahan sembako lain dengan total sekitar 2000 paket sembako.
“Kalau pembagian itu sesuai dengan klenteng yang kami berikan bantuan sosial ini saja.” Sambung Yohanes.
Sementara itu, Pengurus Klenteng Chandra Nadi, Suwardi Kasim (71) mengatakan nantinya untuk jemaat yang datang ke klenteng itu diberikan sebanyak 50 paket sembako saja.
“Akan dibagikan kepada masyarakat yang sudah ada dataya, tapi sembako ini juga akan dibagikan untuk karyawan klenteng yang lebih dari 20 karyawan,” jelasnya.
Ia juga mengatakan, bahwa pembagian sembako itu akan dilakukan sebelum hari imlek, dan sembako sendiri terdiri dari telur dan beras dari berbagai klenteng dan komunitas seperti Walubi.
“Pembagian dilakukan sebelum hari Imlek dan setiap Imlek selalu mendapatkan bantuan dari pihak tertentu.”
Tidak hanya itu, Suwardi Kasim juga menjelaskan, nanti akan disiapkan kapal tongkang gratis untuk pengujung klenteng maupun untuk masyarakat.
“Nanti ada juga 6 ketek dan dipasang bendera, untuk masyarakat umum juga bisa ikut karena ini bukan cuma umat yang ingin sembahyang saja, kalau ada yang mau numpang juga diperbolehkan,” tuturnya.
Menambah Informasi, Klenteng Chandra Nadi (Soei Goeat Kiong) sendiri merupakan klenteng tertua di kota Palembang dengan paduan akulturasi budaya lokal dan budaya Tionghoa yang cukup kental.
Klenteng ini berada di pinggir Sungai Musi Kampung 10 Ulu dan menjadi pengganti dari Klenteng yang terbakar di kawasan 7 ulu lalu.
