SWARAID, PALEMBANG: Bahagia dan duka adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, setiap orang pasti memiliki definisi sendiri untuk dua kata tersebut.
Banyak yang bilang bahwa bahagia itu bisa didapatkan dengan cara sesederhana mungkin, ataupun sebaliknya bahwa duka adalah perasaan patah yang tak ingin orang rasakan.
Dua kata inilah yang kemudian menggerakkan sosok wanita asal Palembang membagikan bait-bait kisahnya dalam sebuah buku bertajuk Evolusi Patah Hati A Jurney from Tears to Happiness, yang ditulis oleh Lely Mela Sari.
Buku yang sudah dilaunching sejak tahun lalu ini, berisikan puisi dan essai tentang perjalanan asmara dari sang penulis, dimulai ketika ia mengenal cinta hingga akhirnya kebahagiaan itu berakhir terpatahkan.
“Pada akhirnya banyak dari pembaca saya yang menyamakan kisah patah hatinya dengan apa yang saya tulis dalam buku pertama saya ini,”ungkap Lely Mela Sari, sosok penulis yang merupakan alumni Teknik Pertanian UNSRI Palembang tahun 2004.
Menurut Lely Mela Sari yang lebih akrab di panggil Ayi ini, dalam bukunya secara garis besar merupakan sebuah biografi dimana 80 persen dari pandangannya dan 20 persen merupakan pandangan sahabat-sahabatnya.
Ayi sendiri mengaku dalam penulisan buku ini memakan waktu lebih dari dua bulan lamanya, dimana puisi tersebut menyesuaikan perasaannya saat menulis.
“Untuk ceritanya sendiri itu saya tulis per hari, artinya dengan kondisi psikologi saya pada saat saya menulis dan mengalami proses transformasi yang artinya saya juga berproses dalam penulisannya,”katanya.
Menurut Ayi, Evolusi Patah Hati adalah tentang titik baliknya dari sebuah kehilangan yang membawanya ke dalam sebuah renungan dan memaknai definisi kebahagiaan yang sesungguhnya.
“Dari saya merasa sedih, kemudian saya menemukan happiness, jadi betul-betul saya bertransformasi mulai dari definisi bahagia versi saya itu yang menurut saya masih sangat dangkal dan ketika saya merampungkan buku pertama ini, saya menemukan bahwa definisi bahagia itu enggak hanya hal-hal yang materi, tapi bagaimana kita bersyukur pada hal-hal sederhana dalam hidup kita,” ungkapnya.
Sebagai wanita yang telah mengalami indahnya sebuah pernikahan yang hingga akhirnya merasakan pahitnya perpisahan, membuat sosok Ayi bertualang dalam menemukan kebahagiaan itu sendiri.
Memahami sebuah kehilangan dan patah hati memang tidak mudah apalagi harus secara kilas harus mengikhlaskan. Wanita banyak dihadapi dengan stigma-stigma sosial yang lebih bernada negatif.
Misalnya, kegagalan dalam pernikahan yang ia alami menimbulkan beragam stigma negatife terhadap pernikahan muda yang lebih banyak terarah kepada perempuyan.
Hal-hal tersebut yang cenderung membuat perempuan akhirnya lebih merasa jatuh.
Situasi sosial yang kurang mendukung pada stigma-stigma perempuan memberi tekanan yang lebih berat.
“Untuk sebenarnya buku ini alurnya mundur, jadi pada saat saya bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi suami saya dan kemudian saya mengalami proses perpisahan, setelah saya cerai, itu saya menemukan banyak sekali kendala, mulai dari saya kenal sama satu orang baru, kemudian ngerasa enggak cocok lagi sama orang berikutnya, enggak cocok. Sampai akhirnya buku ini dibuat. Saya sebenarnya dalam proses patah hati, karena saya bakal menikah,” ungkapnya menguatkan.
Ayi juga menjelaskan pada saat ini ia tengah memfokuskan diri untuk menyelesaikan buku keduanya, yang Ayi rencanakan hingga menjadi trilogi.
“Pada buku kedua dan ketiga nanti, itu akan prosesnya berbeda sesuai tahapan ritme cerita di hidup saya. Jadi kesulitannya lebih ke berusaha untuk menentukan identitas, bahkan di buku kedua ini pun saya berproses dan Allahualam apakah di buku ketiga nanti akan selesai puzzle-nya gitu karena saya menganggap hidup itu seperti puzzle kita nggak tahu Allah bakal kasih kejutan pada babak yang mana.”
Terkait tetang lebih memilih untuk membagikan kisahnya dalam sebuah tulisan hingga dengan 195 halam dan 193 judul berisikan puisi dan essai, dan sudah mencapai pada cetakan ke 600 lebih.
Ayi pun mengaku pada awalnya menulis hanya ingin menjadi pundak dan menemukan pembaca pembaca yang memiliki cerita sama sepertinya, dengan harapan dapat saling menguatkan.
“saya sendiri sangat excited gitu kejutan hidup apalagi yang Allah akan berikan ke saya. Jadi saya percaya akan ada selalu value-nya dari setiap kejadian gitu.”
Diakhir obrolan, Ayi menyimpulkan alasannya menulis sebagai sebuah materi abadi yang tak akan hilang ditelan zaman.
“Karena saya berpikir, sebuah tulisan itu adalah jejak yang kita tinggalkan di semesta. Artinya setelah saya enggak ada di dunia pun, tulisan saya tuh akan tetap dibaca dan semoga berkesenian dengan jalan sastra di Palembang itu akan berkembang dan menjadi embrio yang nanti akan menjadi budaya,” tutupnya.
