11 Februari 2022 - 16:48 WIB | Dibaca : 6,281 kali

Disebut Dapat Menghasilkan Emas, Beberapa Tanaman Ini Tumbuh di Indonesia

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

SWARAID, JAKARTA: Ada banyak jenis tanaman yang dibandrol harga fantastis, terlepas dari apakah tanaman tersebut memiliki khasiat, termasuk spesies langka, atau karena keindahannya.

Indonesia sendiri merupakan negara yang kaya akan beragam spesies tanaman, yang tak hanya indah dan unik namun juga dipercaya memiliki beragam khasiat bagi kesehatan.

Tak hanya itu, Indonesia ternyata memiliki tanaman yang dapat mengekstrak emas dengan cara menyerap logam berat, termasuk logam mulia.

Hal ini dijelaskan langsung oleh Pakar Biologi Tumbuhan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Hamim pada gelaran Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap IPB, beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan logam mulia dapat diekstraksi dari tanaman penyerap logam berat. Menurutnya, logam berat menjadi komponen yang tidak mudah terdegradasi dan mampu bertahan di dalam tanah hingga mencapai ratusan tahun.

“Pada tumbuhan, toksisitas logam berat menyebabkan penghambatan fotosintesis, pertumbuhan akar dan tajuk yang berakibat pada penurunan produksi bahkan bisa menyebabkan kematian. Logam berat bisa menyebar melalui rantai makanan secara biologis sehingga membahayakan kesehatan manusia,” ujar Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini, dikutip dari Kompas.

Ada beberapa jenis tumbuhan yang mampu menyerap logam berat dalam jumlah besar di jaringannya atau disebut hiperakumulator.

Dengan jenis tersebut, tumbuhan dapat digunakan sebagai pembersih lingkungan yang dikenal dengan sebutan fitoremediasi.

Umumnya, tumbuhan hiperakumulator ditemukan di daerah dengan kandungan logam tinggi seperti tanah serpentin dan ultrabasa.

Indonesia sendiri termasuk kawasan yang memiliki daratan ultrabasa terbesar di dunia. Daratan ultrabasa banyak ditemui di Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

“Kelompok bayam-bayaman (Amaranthus) yang tumbuh di sekitar tailing memiliki kemampuan akumulasi emas tertinggi, tetapi karena bio massanya rendah, potensi fitomining-nya rendah. Tanaman lembang (Typha Angustifolia) juga cukup tinggi mengakumulasi lomas emas (Au). Typha dapat menghasilkan 5-7 gram emas per hektar. Hal ini tentu memerlukan pendalaman lebih lanjut,” papar Prof. Hamim.

Namun, Hamim menilai, potensi tumbuhan hiperakumulator di sana belum tergarap optimal. Perlu adanya perhatian dari berbagai pihak agar potensi dapat digali dan dimanfaatkan untuk fitoremediasi dan fitomining.

Tumbuhan hiperakumulator biasanya banyak ditemukan di wilayah dengan kandungan logam tinggi misalnya tanah serpentine dan ultramafic.

Menurutnya, selain tumbuhan hiperakumulator yang hidup di wilayah ultramafic, beberapa jenis tumbuhan penghasil minyak non-pangan (non-edible oil) seperti jarak pagar (Jatropha curcas), jarak kastor (Ricinus communis). Lalu mindi (Melia azedarach) dan kemiri sunan (Reutealis trisperma) serta tanaman aromatic (penghasil minyak atsiri) seperti Vetiver (Vetiveria zizanioides) juga berpotensi besar untuk digunakan sebagai agen fitoremediasi maupun fitomining.

“Hasil percobaan membuktikan bahwa jenis-jenis tumbuhan tersebut mampu bertahan tumbuh pada media cair mengandung Pb dan Hg serta pada media tailing tambang emas. Di antara keempat spesies penghasil minyak non-pangan yang digunakan, Kemiri sunan (R. trisperma) termasuk yang paling tahan terhadap perlakuan dengan logam berat dan tailing tambang emas,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa beberapa tumbuhan di seputar tambang emas juga bisa menjadi alternatif sumber genetik bagi tumbuhan hiperakumulator logam emas.

Hasil eksplorasi tumbuhan di seputar tailing dan pertambangan emas PT Antam UBPE Pongkor diketahui bahwa hampir semua jenis tumbuhan yang tumbuh di sana punya kemampuan mengakumulasi emas meskipun pada kadar yang masih rendah.

Sementara itu, dalam percobaan yang dilakukannya, pemanfaatan cendawan endofit berseptat gelap (Dark Septate Endophyte) dan cendawan mikoriza terbukti dapat membantu tumbuhan dalam beradaptasi pada lingkungan tercemar logam berat. Cendawan ini dapat membantu program fitoremediasi.

“Penggunaan senyawa ammonium tiosianat (NH4SCN) sebagai ligan pelarut emas juga dapat meningkatkan penyerapan emas oleh tanaman dan meningkatkan biomassa tanaman. Ini potensi yang baik untuk program fitomining pada tailing tambang emas,” pungkasnya.