11 Oktober 2020 - 20:30 WIB | Dibaca : 1,735 kali

Chairil Anwar “Sang Binatang Jalang”

Laporan : Novi
Editor : Egi Saputra

Chairil Anwar, lahir di Medan, 26 Juli 1922.  Setelah orang tuanya meninggal pada tahun 1940, ia ikut ibunya pindah ke Batavia. Chairil tidak menyelesaikan  pendidikannya di MULO ( Meeir Uitgebreid Lager Onderwijs) setara SMP di masa kolonial Belanda. Selanjutnya Chairil belajar secara otodidak. Ia menguasai beberapa bahasa asing, seperti bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman.

Chairil mulai menulis pada tahun 1942. bahasa tulisannya yang berbeda dari para penyair di masanya, menjadikan Chairil sebagai penyair yang cepat besar. Chairil menggunakan kata-kata yang tidak baku dalam karyanya, ia banyak menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Karena berjasa dalam pembaharuan puisi Indonesia, menjadikannya sebagai pelopor Angkatan ’45.

Pada 6 September 1946, ia menikah dan dikaruniai seorang putri. Namun usia pernikahannya tidak berlangsung lama. Putri semata wayangnya ikut bersama istrinya. Semenjak perceraiannya, kondisi  kesehatan Chairil menurun. Ia terdiagnosa menderita penyakit TBC dan komplikasi.

Chairil sempat bekerja sebagai redaktur di Majalah Gema Suasana, namun kemudian mengundurkan diri dan kemudian bekerja menjadi redaktur Majalah Siasat bersama Ida Nasution, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Di usia yang masih sangat muda, 28 April 1949 pada usia 26 tahun, Chairil  “Sang Binatang Jalang” meninggal dunia di Jakarta yang kemudian diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Beberapa kumpulan karyanya yang melegenda yakni;

1)Deru Campur Debu (1949)

2)Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949)

3)Aku Ini Binatang Jalang (1986)

Salah satu puisinya yang terkenal hingga saat ini adalah “AKU” (1943).

 

AKU

Kalau sampai waktuku

Kumau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.