29 September 2022 - 09:24 WIB | Dibaca : 721 kali

75 Tahun Luhut Binsar Pandjaitan; Perjalanan Karir sang Purnawirawan

Laporan : Tim Swara
Editor : Noviani Dwi Putri

Untuk sampai di titik sekarang, purnawirawan TNI kelahiran Toba Samosir, 28 September 1947 ini telah melalui jalan panjang karirnya di dunia politik

SWARAID, JAKARTA: Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, purnawirawan yang kini menjadi salah satu pembantu presiden di Kabinet Indonesia Maju selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi merupakan putra sulung dari 5 bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu.

Ia menikah dengan Devi Simatupang dan memiliki 4 anak, yakni Paulina, David, Paulus dan Kerri Pandjaitan.

Hingga tepat di usianya ke-75 tahun ini, purnawirawan TNI kelahiran Toba Samosir, 28 September 1947 ini telah melalui jalan panjang karirnya di dunia politik.

Karir Politik

Karir politik Luhut dimulai pada 1999. Presiden RI ke 3, B.J. Habibie kala itu mengangkatnya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Singapura.

Dalam tiga bulan pertama masa jabatannya, Luhut berhasil memulihkan hubungan kedua negara ke tingkatan semula.

Lalu, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Luhut ditarik dari Singapura sebelum masa baktinya berakhir.

Gus Dur mendapuk Luhut sebagai Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia (RI). Presiden pada era pemerintahan selanjutnya pun bermaksud untuk mempercayakannya kembali sebagai menteri, tetapi Luhut menolaknya karena ia menjaga etika terhadap Gus Dur.

Pada 31 Desember 2014, Luhut dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan Indonesia yang pertama oleh Presiden Jokowi.

Satu tahun kemudian, tepatnya pada 12 Agustus 2015, Luhut ditetapkan oleh Presiden menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.

Pada 15 Agustus 2016, Luhut pernah ditunjuk langsung oleh Presiden Jokowi untuk menjadi pejabat sementara (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Luhut Pandjaitan pun pernah mengepalai beberapa program pemerintah, di antaranya Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ketua Dewan Sumber Daya Air Nasional, dan Koordinator PPKM Wilayah Jawa-Bali.

Karier Militer

Luhut memulai kariernya di dunia militer pada 1967. Ia mengasah terlebih dahulu kemampuan kemiliterannya dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Darat.

Tiga tahun kemudian, ia meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik pada 1970 sehingga meraih penghargaan Adhi Makayasa.

Luhut banyak menghabiskan karier militernya di Kopassandha TNI AD. Di sana, ia dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81.

Ia pun pernah menghadapai Berbagai medan tempur dan menduduki jabatan penting, di antaranya Komandan Grup 3 Kopassandha, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), dan Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat.

Melansir p2k.unkris.ac.id, Luhut pun pernah mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus. Ini menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.

Kemudian, pada 2001, Luhut Pandjaitan mendirikan Institut Teknologi Del di Desa Sitoluama, Laguboti, Kabupaten Toba, Sumatra Utara.

Bisnis 

Luhut mulai merintis bisnisnya pada 2004 di bidang energi dan pertambangan dengan mendirikan PT Toba Sejahtra Group.

PT tersebut bergerak di sektor pertambangan batu bara, perkebunan (PT Trisena Agro Sejahtera dan PT Adimitra Lestari), kelistrikan (PT Pusaka Jaya Palu Power dan PT Kartanegara energi Perkasa), dan minyak dan gas (PT Energi Mineral Langgeng dan PT Fairfield Indonesia). Selain itu, ada satu perusahaan konsesi yang dipegang Toba Sejahtra Group, yaitu PT Kutai Energi.

Tidak hanya dalam ranah politik, militer, atau bisnis saja, Luhut Pandjaitan juga pernah bermain film dalam judul Sang Perwira (2019), meskipun hanya sebagai kameo saja yang muncul tidak lama.