2 Oktober 2022 - 16:52 WIB | Dibaca : 753 kali

3 Komoditas Pangan Indonesia Masih Bergantung Impor

Laporan : Riski
Editor : Noviani Dwi Putri

Pemerintah juga akan memikirkan langkah substitusi untuk mengurangi ketergantungan dari luar negeri

SWARAID, JAKARTA: Di tengah krisis pangan dunia, pemerintah mengklaim bahwa kondisi pangan Tanah Air masih relatif aman.

Namun, ada beberapa komoditas yang menjadi sorotan karena hanya mampu dipenuhi dari impor.

Diterangkan oleh Deputi Ketersediaan dan Stabilitasi Pangan Badan Pangan Nasional (BPN) I Gusti Ketut Astawa, beberapa bahan pangan harus mampu digenjot produksinya oleh petani.

Bukan hanya itu, pemerintah juga akan memikirkan langkah substitusi untuk mengurangi ketergantungan dari luar negeri.

“Kita harus bisa memberikan kekuatan kepada petani,” kata Ketut dalam acara dialog mengenai krisis pangan pada Sabtu (1/10/22).

Ada 3 bahan pangan yang menjadi sorotan:

1. Kedelai

Dikatakan Ketut, kedelai masih menjadi bahan pangan yang mayoritas dipenuhi dari impor.

Produksi dalam negeri baru dapat memenuhi 20% pasokan. Hal ini menjadi perhatian pemerintah karena kedelai merupakan bahan pangan yang penting untuk tempe dan tahu.

“Makanya kita harus memperkuat gairah petani untuk menanam,” kata dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor kedelai Indonesia sepanjang periode Januari-Juni 2022 mencapai 1,42 juta ton dengan nilai US$959,09 juta.

2. Gandum

Bahan dasar dari tepung terigu ini juga masih dipenuhi dari impor. Maka dari itu pemerintah akan menggandeng swasta untuk mencari alternatif lain.

Ketut mengatakan, sejumlah perusahaan telah mulai mencari substitusi bahan dasar mi instan. Adapun, Presiden Joko Widodo sebelumnya meminta sorgum menjadi alternatif gandum.

“Saat mereka (negara produsen gandum) setop ekspor, ini jadi masalah. Maka kami ajak produsen (cari alternatif),” kata Ketut.

Dari data BPS, impor gandum dan meslin Indonesia mencapai 4,36 juta ton dengan nilai US$1,65 miliar sepanjang Januari-Mei 2022. Terbesar berasal dari Australia dengan nilai US$ 585,6 juta.

3. Bawang Putih

Sama dengan kedelai, Ketut mengatakan 80% pasokan bawang putih Indonesia masih impor.

Ia mengatakan hal yang penting adalah memastikan petani mendapatkan insentif agar mau menanam tanaman hortikultura ini.

Ini karena BPN telah mempelajari bahwa tanah di Indonesia cocok untuk ditanami bawang putih. Salah satu lokasi yang potensial yakni Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Perlu insentif agar petani mau produksi dan ada kepastian diserap,” katanya.

Sedangkan sepanjang 2021, produksi bawang putih nasional hanya mencapai 45,09 ribu ton, turun 44,88% dari 81,8 ribu ton pada 2020.

Adapun komoditas lain seperti beras, ayam, telur, jagung, hingga minyak goreng masih dalam posisi surplus.

Ketut mengatakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini mencapai 800 ribu ton, namun harus terus ditingkatkan.

“Rapat koordinasi terbatas telah menetapkan kenaikan hingga mencapai 1,2 juta ton,” katanya.